Ustadz Abdul Somad Beberkan Cara Mengatur Harta Anak Yatim

 

Mediadakwah.online - (Okezone.com) Ustadz Abdul Somad (UAS) mengatakan Islam adalah agama yang sangat mengedepankan perilaku baik kepada sesama manusia. Terlebih lagi ini bagi mereka yang merupakan golongan lemah seperti kaum duafa, fakir miskin, dan anak yatim.

Anak yatim, lanjut Ustadz Abdul Somad, secara definisi berarti mereka yang telah kehilangan orangtuanya, dalam hal ini sosok ayah yang punya kewajiban menafkahi si anak tersebut dan keluarga.

Membahas mengenai anak yatim, selama ini status tersebut lebih diidentikkan dengan orang miskin. Tidak salah memang, namun bagaimana dengan seorang anak yatim yang kaya?

Berikut penjelasan UAS, sebagaimana dirangkum dari kanal YouTube-nya Ustad Abdul Somad Official, Jumat (6/8/2021).

1. Wali boleh saja menggunakan harta anak yatim

Anak yatim adalah golongan yang harus dibantu serta dimuliakan. Allah Subhanahu wa ta'ala secara tegas melarang, bahkan mengancam, orang yang berbuat zalim terhadap anak yatim, seperti memakan harta anak yatim.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَأْكُلُونَ أَمْوَالَ الْيَتَامَىٰ ظُلْمًا إِنَّمَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ نَارًا ۖ وَسَيَصْلَوْنَ سَعِيرًا

Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka)." (QS An-Nisa: 10)

Saat firman tersebut turun, sempat terjadi kegaduhan di kalangan umat Islam, terlebih lagi para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam yang senantiasa menaati perintah-NYA.

Untuk mengedepankan prinsip kehati-hatian, banyak dari para sahabat yang lantas meninggalkan anak yatim yang dirawat agar tidak tercampur hartanya dengan harta si anak yatim tersebut.

Menjawab hal tersebut, kemudian Allah Subhanahu wa ta'ala memberikan penjelasan lebih lanjut yang tertuang dalam Surah Al Baqarah Ayat 220 untuk menenangkan hamba-Nya:

فِى الدُّنۡيَا وَالۡاٰخِرَةِؕ وَيَسۡـــَٔلُوۡنَكَ عَنِ الۡيَتٰمٰىؕ قُلۡ اِصۡلَاحٌ لَّهُمۡ خَيۡرٌ ؕ وَاِنۡ تُخَالِطُوۡهُمۡ فَاِخۡوَانُكُمۡؕ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ الۡمُفۡسِدَ مِنَ الۡمُصۡلِحِؕ وَلَوۡ شَآءَ اللّٰهُ لَاَعۡنَتَكُمۡؕ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيۡزٌ حَكِيۡمٌ

Artinya: "Tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, 'Memperbaiki keadaan mereka adalah baik' Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana." (QS Al Baqarah: 220)

Tafsir dari ayat tersebut salah satunya dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam yang bersabda bahwa seorang wali yatim atau orang yang mengurusi anak yatim boleh saja mencampur, bahkan menggunakan harta anak yatim, tapi tidak boleh berlebihan.

Ustadz Abdul Somad kemudian menjelaskan bahwa wali yatim, terlebih kalau dia miskin, tidak ada halangan baginya untuk mengambil harta anak yatim yang dipeliharanya untuk sekadar keperluan hidupnya sehari-hari dengan prinsip Urf.

Urf adalah bahasa Arab yang berarti 'tradisi'. Contoh, perwujudan Urf di sini adalah disesuaikan dengan 'tradisi' yang berlaku di tempat tinggalnya. Semisal di Riau, biaya hidup idealnya katakan sekira Rp2 juta per bulan, maka boleh bagi si wali yatim mengambil Rp2 juta tersebut dari harta si anak yatim yang kaya.

Hal ini juga berlaku tidak hanya bagi perorangan, tetapi juga bagi seorang pengurus atau pengasuh dari lembaga seperti panti asuhan.

2. Boleh mencampur harta anak yatim dengan pernikahan

Perkara terkait mengurus anak yatim ini jugalah yang kemudian mendasari munculnya peraturan serta tindakan poligami dalam Islam. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

وَاِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُوْا حَكَمًا مِّنْ اَهْلِهٖ وَحَكَمًا مِّنْ اَهْلِهَا ۚ اِنْ يُّرِيْدَآ اِصْلَاحًا يُّوَفِّقِ اللّٰهُ بَيْنَهُمَا ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيْمًا خَبِيْرًا

Artinya: "Dan jika kamu khawatir terjadi persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru damai dari keluarga laki-laki dan seorang juru damai dari keluarga perempuan. Jika keduanya (juru damai itu) bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sungguh, Allah Mahateliti, Maha Mengenal." (QS An-Nisa: 35)

Tafsir ayat tersebutlah yang menjadi landasan bagi seorang Muslim dalam hal poligami. Ustadz Abdul Somad mengatakan, "Apabila kamu khawatir tidak adil terhadap anak yatim, maka jalan terbaiknya adalah mencampurkan harta wali dengan harta anak yatim dengan cara menikahinya. Asal dengan niat yang baik."

UAS melanjutkan, esensi dan makna dari poligami adalah untuk menciptakan kebaikan. Dengan menikahi sosok ibu dari si anak yatim, maka ibunya terjaga, anaknya terpelihara.

Dalam hal ini, Ustadz Abdul Somad menekankan bahwa tindakan poligami tidak boleh dilandaskan hawa nafsu semata, semisal asal-asalan melihat gadis muda terus dinikahi, tapi juga berdasarkan kebaikan lainnya.[okezone]

Wallahu a'lam bishawab.

Iklan Bawah Artikel