Orang Liberal Tuduh Umat Islam Menyembah Kakbah, Begini Penjelasan Ulama

 

Mediadakwah.online - (okezone.com) Orang liberal dan bahkan mengaku beragama Islam menuduh bahwa umat Islam menyembah Kakbah. Sebuah tuduhan yang keterlaluan. Bahkan menyamakan umat Islam sama dengan agama lainnya bersujud di depan batu dan patung.

Parahnya, sejumlah orang Islam karena lemahnya iman dan ilmu langsung mempercayai dan meyakini tuduhan bodoh itu.

Jawaban hal ini cukup mudah, karena semua orang Islam yakin dan paham bahwa Kakbah adalah arah kiblat kaum muslimin. Berikut beberapa poin jawaban dari tuduhan (syubhat) tersebut:

Allah Ta’ala memerintahkan kita dalam Al-Quran agar menyembah Rabb dari Kakbah ini. Jadi, bukan ka’bah sebagai Rabb yang disembah.

Kiblat kaum muslimin di awal Islam bukan ke arah ka’bah tetapi ke arah baitul maqdis di Palestina. Jadi apakah Rabb berganti apabila berpindah? Tentu tidak kan?

Ustaz dr Raenul Bahraen menjelaskan,  tidak ada kaum muslimin yang membuat bangunan semisal Kakbah atau miniatur Kakbah kemudian ditaruh di masjid untuk disembah atau di bawa ke mana-mana untuk disembah

Bahkan orang kafir quraisy pun tidak menyembah Kakbah saat itu, mereka menaruh berhala-berhala mereka di Kakbah.

Berikut penjelasan dari poin di atas:

1. Allah memerintahkan kita dalam AL-Quran agar menyembah Rabb dari Kakbah ini. Jadi bukan ka’bah sebagai Rabb yang disembah.

Allah Ta’ala berfirman,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Kakbah).” [QS. Al-Quraisy: 3]

Penegasan perintah ini agar menyembah Rabb dari Kakbah adalah karena saat itu (di awal-awal Islam) di dalam Kakbah ada berhala-berhala yang ditaruh oleh orang kafir Quraisy. Ahli tafsir Al-Qurthubi menjelaskan,

والبيت : الكعبة . وفي تعريف نفسه لهم بأنه رب هذا البيت وجهان : أحدهما لأنه كانت لهم أوثان فيميز نفسه عنها . الثاني : لأنهم بالبيت شرفوا على سائر العرب

“Maksud dari ‘Al-Bait’ adalah ka’bah. Allah menjelaskan bahwa Allah adalah Rabb ka’bah karena dua alasan. Pertama: orang quraiys memiliki berhala-berhala dan membedakan Allah dari berhala tersebut. Kedua: karena orang Arab saat itu memuliakan Kakbah (Ajaran nabi Ibrahim & Ismail).” [Tasir Al-Qurthubi]

2. Kiblat kaum muslimin di awal Islam bukan ke arah Kakbah tetapi ke arah baitul maqdis di Palestina. Jadi apakah Rabb berganti apabila berpindah?

Allah menurunkan ayat terkait perpindahan kiblat kaum muslimin. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya. [QS. Al-Baqarah:144]

3. Melansir laman Muslim or id disebutkan, tidak ada kaum muslimin yang membuat permisalan ka’bah atau minatur Kakbah kemudian ditaruh di masjid untuk disembah atau di bawa ke mana-mana untuk disembah

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan bahwa tuduhan umat islam adalah penyembah berhala (ka’bah dan hajar aswad) itu tidak benar, beliau berkata:

الذين يشككون المسلمين في دينهم بأمثال هذا الكلام المبني على جهل قائليه من جهة ، وسوء نيتهم في الغالب من جهة أخرى

“Mereka membuat ragu kaum muslimin mengenai agama mereka dengan perkataan semisal ini (Umat Islam menyembah berhala), perkataan ini dibangun di atas kejahilan orang yang mengucapkannya dari berbagai sisi dan niat jelek dari sisi yang lain.” [Majallah AL-Manar 16/675]

Iklan Bawah Artikel