Kisah Cerita Pasien Selamat dari Kritis Covid-19 dengan Obat Keajaiban Sedekah

Mediadakwah.online - (okezone.com) PANDEMI Covid-19 terjadi di berbagai negara dan masyarkat apapun tingkatannya terkena dampak. Mulai dari pengusaha hingga rakyat biasa terkana dampak dan terpapar Covid-19. Namun dari pendemi ini muncul banyak kisah yang disampaikan tertutama penyintas.

Seperti yang disampaikan Naniek S Deyang dalam akun Facebook -nya yang diposting pada Jumat 23 Juli 2021. Berikut isi tulisannya.   

Saya tadinya tidak mau menulis kondisi saya saat di ruang isolasi. Tapi mumpung saya insomnia dan waktu pas Jum'at dini hari maka saya akan bercerita keajaiban sedekah.

Saya yg hanya bisa terbaring lemah di ruang isolasi, bergerak utk miring pun tidak mampu, sambil  harus memakai masker (topeng) dari mesin oksigen dengan selang plastik besar.  Di satu sisi kaki dan tangan penuh jarum (infus) berbagai macam obat. Di situ hanya saya dan Allah saja yg ada.

Meski dilarang menengok monitor yg menayangkan saturasi, detak jantung, nadi dll saya kerap berusaha utk menengok, utk memastikan berapa saturasi saya kalau dada terasa sesak.

Tidak ada yg bisa saya lakukan, jangankan shalat, utk menggerakkan bibir pun susah, karena bibir saya sdh luka terpapar oksigen yg terus menerus tdk lepas. Saat itu bulan puasa kemarin.

Satu-satunya yg bisa sy lakukan adalah meraih HP yg didekatkan perawat, dan menulis sepotong-potong karena menulis panjang gak mampu. Saat itu yg saya ingat, saya harus bersedekah (saya pribadi bukan JMP), saya bilang ke Allah, "Ya Rab saya pernah membaca bahwa sedekah akan menolong hambaMU, hamba ingin janjiMu itu ya Rab, meski hampir tiap hari bersedekah saya belum melihat janjiMu utk hambaMu ini"...

Maka saya lantas berpikir, mungkin dalam kondisi susah seperti sekarang Allah justru menghendaki saya harus lebih banyak sedekah (di satu sisi posisi keuangan saya tidak lagi baik), saya tdk berpikir uang di ATM akan habis maka sy pun instruksi ke keluarga setiap hari mengambil uang saya (ATM dipegang ponakan) dan setiap hari memberi makan utk buka semua tukang becak dan kaum dhuafa di kota Madiun dan para Nakes di ruang isolasi.

Setiap hari saya minta dibelikan makanan dengan menu  paling enak dan berganti -ganti menu utk dibagikan ke mereka. Masyaallah, saturasi yg tadinya dibawah 90, naik terus di atas 90 bahkan berhari-hari bisa sampai 100 meski memang saya masih dibantu alat mesin oksigen.

Harapan utk hidup saya berlanjut makin membuncah, saya makin meminta keluarga terus bersedekah dalam jumlah yg lebih banyak, dan semua para Nakes terkejut, saya yg menolak pakai ventilator (saya harus tanda tangan), bisa peroleh saturasi di posisi di atas 95 sampai 100. Padahal di ruang isolasi saya termasuk kelas berat dan harus pakai ventilator (tapi saya menolak pakai ventilator).

Saat malam Takbiran Lebaran Idul Fitri ada kesedihan mendalam karena saya masih terbaring di ruang isolasi. Meski berhari-hari saturasi saya sdh 100, tapi saya belum boleh keluar dr ruang isolasi, karena harus diuji coba dng bantuan oksigen dng tekanan yg terus diperkecil. Maka utk menghibur hati saya, saya minta diantar uang cash, dan uang itu saat Idul Fitri saya bagi2 dari tukang sapu, OB sampai ke semua perawat di ruang isolasi, karena saya berpikir mereka sama sedihnya dgn saya, harus berlebaran di ruang isolasi bersama saya dan puluhan atau mungkin ratusan pasien covid lainnya. Saya juga minta semua Nakes di ruang isolasi diberi bingkisan Lebaran.

Tak hanya itu, dari ruang isolasi, saya juga instruksi keluarga utk bagi THR dan bingkisan ke semua karyawan dan tetangga yg dhuafa, seperti saat saya sehat di rumah.

Saat saya dinyatakan negative dan bisa pindah ke ruang HCU, saya minta keluarga terus bersedekah, hingga pindah di ruang biasa, dan sampai keluar di RS.

Dua hari sampai rumah saya undang anak-anak yatim ke tempat usaha saya di Madiun (saya di dalam mobil karena baru bisa duduk belum bisa jalan), utk menyenangkan hati mereka (anak-anak yatim) dng boleh mengambil apa saja yg ada di toko pakain, dan retail milik saya, dan boleh makan sepuasnya di cafe milik saya juga.

Saat saya sedekah "ugal-ugalan" tersebut, saya hanya berpikir, saya kalau sehat bisa mencari lagi, tapi kalau saya mati, saya tdk bisa berbuat kebaikan.

Hingga hari ini saya tdk pernah menghitung atau bertanya selama hampir dua bulan, berapa harta/uang yg sdh saya keluarkan utk sedekah, karena saat sakit yg berat itu, sejatinya Anda nanti akan mengetahui bahwa "harta itu tdk berarti", namun akan berarti saat kita bagikan, karena akhirnya kita melihat "janji Allah ternyata benar"! Sedekah akan menyelamatkan kita!

Semua dokter setelah saya sembuh baru bilang, semua yg kondisinya kayak saya ternyata "lewat" atau tak terselamatkan, tapi saya yg kormobid darah tinggi, obesitas, dll, namun tanpa ventilator Alhamdulillah diberi kesempatan Allah SWT utk sembuh, meski hampir dua bulan harus meringkuk di RS. Saya bilang ke semua dokter dan Nakes, itu  semua karena kekuatan sedekah dan doa keluarga serta doa jutaan teman2 di dunia maya dan nyata.

Jangan takutkan hartamu habis, karena saat sehat Anda masih bisa mencarinya bila hartamu habis. Namun bila sakit atau bahkan meninggal harta itu menjadi tdk ada artinya. Dan Alhamdulillah saat recovery seperti saat ini, lagi2 Allah memberi kemudahan, karena lagi2 menurut para dokter, saya sangat cepat recovery dibanding pasien long covid lainnya atau pada umumnya.

Meski sekarang berat saya berkurang 20 Kg dan sangat hitam karena berjemur, saya sudah bisa shalat lima waktu dan shalat sunnah lainnya dng berdiri, naik sepeda, berlari, dan jalan 700 meter setiap hari, dan tentu sudah aktif menulis lagi. Yg tersisa tinggal insomnia saja.

Ya Rab, kebenaran janjiMU bahwa "sedekah akan bisa menyelamatkan", mohon maaf bila dini hari ini saya bagi ke teman-teman. Engkau Maha Tau ini bukan riya' tapi sebagai bentuk syiar saya agar kita bersedekah di saat sulit atau pun senang.

NB:

1. Sedekah tidak harus punya uang banyak atau kaya, sepiring nasi yg kita berikan ke orang yg membutuhkan, Insyaallah akan menolong kita.

2. Mukjizat sedekah juga pernah saya alami belasan tahun lalu, saat Ibu saya koma karena salah obat di RS swasta di Madiun, saya seperti kehilangan harapan. Entah kenapa tiba2 terbetik dalam benak saya utk mentraktir tiap hari tukang becak di seputar RS dan tukang parkir, serta kaum dhuafa di rumah makan paling terkenal di Madiun yg tdk mungkin para Abang becak dll  utk membeli. Tiga hari berturut -turut saya bawa rombongan tiap pagi atau siang dan sore ke rumah makan tersebut, dan  apa yg terjadi, Ibu yg diprediksi tak bisa tertolong , pada hari ketiga ba'da Isa' memanggil nama cucu laki2 di sebelahnya. Masyaallah saya tidak pernah lupa peristiwa itu, keajaiban sedekah.

3.Entah sdh ratusan, bahkan ribuan kali Allah menolong saya dari yg kecil sampai besar, karena saya ikut menolong hambaNYA yg membutuhkan. Itu yg membuat  saya tergila -gila sedekah, bahkan dulu  di tahun 2000-an sampai saya undang Ustad Yusuf Mansur  saat Ulang Tahun saya utk bercerita keajaiban sedekah, dan saat saya dirikan JMP, motivasi saya selain bisa menolong orang lebih banyak, bisa mengajak teman-teman utk "menikmati" kebesaran Allah lewat keajaibanNYA*

4. Sedekah itu sebetulnya bukan hanya menolong orang lain, tapi menolong diri kita sendiri

5. Saya di rawat di RSUD Soedono Madiun, karena kebetulan pas saya kena covid  posisi saya  lagi  pulang kampung  di Madiun. [okezone]

Iklan Bawah Artikel