Cerita Rumah Penghafal Al-Qur'an Ditembok Wakil Rakyat hingga Dibongkar

 

Mediadakwah.online - (detik,com) - Kesal dengan santri rumah penghafal Al-Qur'an (tahfiz) membuat Amiruddin seorang anggota DPRD F-PAN Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel) menutup akses pintu belakang rumah tahfiz itu dengan tembok. Alasan Amiruddin membuat tembok itu lantaran kesal karena masalah kebersihan.

Rumah Amiruddin diketahui bersebelahan dengan Rumah Tahfiz Nurul Jihad di Jalan Ance Deng Ngoyo Lr 5, RT/RW V, Kelurahan Masale, Kota Makassar. Pintu belakang rumah tahfiz ini mulai ditembok Amiruddin pada Kamis (22/7).

Amiruddin membantah isu yang menyatakan dia menembok rumah tahfiz itu karena terganggu suara ngaji. Dia menegaskan itu tidak benar.

"Saya sama sekali tidak terima itu (isu tembok rumah tahfiz karena ribut mengaji). Hanya, saya ini hanya sampahnya ini yang saya keberatan," kata Amiruddin saat berbincang dengan detikcom, Sabtu (24/7)

Menurut Amiruddin, awalnya ada warga pemilik rumah meminta izin kepadanya membuat pintu agar dapat memasukkan bahan material ke dalam rumah. Kemudian berjanji menutup pintu itu setelah urusannya selesai.

"Lalu dia berjanji setelah selesai rumah saya saya tutup kembali. Tapi sampai ada masalah dia tidak tutup, itu saja. Kemudian itu rumah ada akses jalan lain, bukan itu aksesnya ya dia. Saya punya akses di situ karena rumahku di situ, akses perumahan," terangnya.

"Jadi itu tahfiz tidak pernah lewat di situ, bukan (jalur utama), ndak pernah lewat situ. Hanya, itu pintu dijadikan tempat pembuangan sampah kepada saya. Nah, ada jalannya dibuka," lanjut Amiruddin.

Dia juga membantah adanya larangan dari pihak RW untuk menembok rumah itu. Dia mengaku pihak kelurahan, kecamatan, hingga RT/RW setempat tidak pernah sama sekali menghubunginya. Dia pun berjanji akan membongkar tembok itu setelah dia melakukan klarifikasi ke sejumlah pihak.

Amiruddin menegaskan dia membuat tembok itu karena tempat itu sering dijadikan pembuangan sampah. Sesekali, lanjut dia, tempat itu dijadikan untuk menjemur pakaian.

"Saya mau mediasi, saya siap bongkar, tapi saya mau klarifikasi bahwa itu yang saya tutup bukan jalan akses tahfiz, karena memang ada jalannya ke depan. itu mi saya keberatan karena dia sering buang sampah, jemur pakaian, kasur di pagar saya. Hanya saya tidak bisa, karena tidak ada bukti," ucapnya.

Tembok Dibongkar

Saat ini tembok yang menutup pintu belakang rumah tahfiz itu sudah dibongkar. Beberapa pekerja akhirnya merobohkan tembok tersebut Sabtu (24/7) pagi sebelum Amiruddin, yang mendirikan tembok, tiba di lokasi.

Keluarga Amiruddin pun meminta maaf atas peristiwa ini. Mereka mengakui ada kesalahpahaman dengan warga sekitar soal jalan fasilitas umum tidak diperjualbelikan.

"Saya katakan bahwa tindakan kami ini sangat tidak benar dan tidak manusiawi. Maka karena itu, lewat kesempatan ini tabe mohon dimaafkan, bahwa Haji Amiruddin sekeluarga mohon maaf, beribu ribu maaf, atas sifatnya atas kesalahpahaman ini," kata perwakilan keluarga Amiruddin, Ahmad Akbar, saat ditemui di lokasi.

Ahmad Akbar selaku kakak Amiruddin juga mengucapkan terima kasih kepada Camat Panakkukang Thahir Rasyid, yang melakukan pendekatan yang baik kepada warga sehingga hal-hal yang tidak diinginkan dapat dihindari. Dia menyambut baik pembongkaran tembok itu dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Dia juga bercerita bahwa penembokan rumah tahfiz itu terjadi karena adanya kesalahpahaman. Menurut dia, saat membeli rumah itu, dia mengira bahwa tanah yang berada di depan rumahnya adalah satu kesatuan.

"Walaupun sebenarnya menurut keterangan Pak Camat ini adalah jalanan tidak bisa diperjualbelikan, kami beli dari pemilik pertama, ternyata menurut aturan tidak boleh diperjualbelikan karena ini jalanan. Kami juga baru paham," ungkapnya.

Selain itu, Akbar membantah isu soal penembokan rumah Tahfiz ini lantaran keluarganya tidak senang mendengar suara ribut anak-anak yang sedang mengaji yang berada tepat samping rumah Amiruddin.

"Tidak. Tidak ada sebenarnya, tidak mengerti, tidak paham bahwa ada suara mengaji. Kami ini orang Islam, kami semua haji, kami justru berniat untuk membantu kasihan, bagaimana ini perguruan ini, hafiz ini bisa berkembang, bisa maju, sukses seperti hafiz yang lain," kata dia.

Amiruddin juga bersumpah dia tidak pernah terganggu karena mendengar suara santri mengaji. Amiruddin menegaskan ini murni salah paham.

"Kalau saya bisa bersumpah, kalau saya bisa bersumpah, bahwa semua kebaikan saya ya, iya karena saya terus terang, saya tidak ini (risi). Saya punya, diri saya sudah empat kali naik ke Tanah Suci, anakku 4, istriku 1, kalau memang ada, ada bahasa keluar di bibir saya, saya tidak dapat di akhirat itu yang berisik (karena Al-Qur'an)," kata Amiruddin saat ditemui seusai pembongkaran tembok rumah.

Sekali lagi, Amiruddin menegaskan penembokan dilakukan hanya karena kesalahpahaman lantaran anak-anak (santri) kerap bermain di depan rumahnya. Dia juga tak menutup akses jalan rumah tahfiz sebab akses jalan berada di depan. Sedangkan pintu belakang jalan belakang dulunya disebut tak ada.

"Iya itu kan biasa (main) kan, kita kerja bakti biasa dia main-main di situ, itu saja anu (salah)-nya," tutur Amiruddin. [detik]

Iklan Bawah Artikel