Kisah Rini Memeluk Islam Setelah Berbulan-bulan Sakit Gigi

 

Mediadakwah.online - (SuaraSulsel.id) - Rini, perempuan yang menjadi orang tua tunggal mengaku pernah mengalami sakit gigi selama berbulan-bulan. Bermacam obat sudah diminum tapi tidak sembuh. Hingga akhirnya Rini memutuskan untuk berhenti minum obat.

Suatu malam, masih dalam keadaan sakit gigi, Rini merasakan ngilu yang kian parah, ditambah dinginnya suhu AC.

Akhirnya ia memutuskan memakai selimut hingga menutupi kepalanya agar hangat. Karena mematikan AC bisa membangunkan anaknya.

Dengan rasa sakit, tanpa sadar Rini mengucapkan kalimat yang ia sendiri merasa aneh. Karena terus mengucapkannya.

"Saya mengucapkan Astagfirullah, Astagfirullah berulang-ulang hingga saya tertidur," ujarnya.

Kemudian, di pagi hari ketika hendak sikat gigi ia merasakan hal yang aneh. Biasanya ia harus berhati-hati ketika menggosok gigi karena ngilu.

Tapi pagi itu, bahkan dengan ritme yang lebih cepat, ia tak merasakan sakit sama sekali. Saking tidak percayanya pada kejadian tersebut, Rini mengambil air es lalu kumur-kumur, dan tidak merasakan sakit sama sekali.

Ia heran karena sakit gigi yang dideritanya selama ini telah hilang tanpa minum obat. Akhirnya Rini kembali ke kamar mandi untuk mandi dan tanpa disadari ia kembali mengucapkan kalimat yang dia sendiri tidak mengetahui apa maknanya. Ia mengucapkan subhanallah berulang-ulang.

Namun kejadian tersebut ia anggap hal biasa saja, dan berlalu begitu saja. Suatu ketika ia tiba-tiba teringat kalimat yang pernah dia ucapkan. Merasa penasaran ia kemudian bertanya pada teman dekatnya yang Muslim.

"Saya bertanya arti astagfirullah dan subhanallah. Saya tanya temen trus ngomong maaf yah kalau penulisannya salah, lalu teman saya bilang, ini bener kok Rin! Temen saya menjelaskan artinya dan menyuruh saya cari di google lagi supaya nggak salah," ujarnya dalam video chanel Arqom Pictures. Mengutip dari telisik.id -- jaringan Suara.com

Namun seolah hilang bersama berlalunya waktu, ia kemudian melupakan peristiwa itu. Seolah direncanakan Tuhan, ia kembali teringat, karena teman dekat muslim menghubungi untuk bertanya mengenai apakah dia sudah mencari jawaban atas pertanyaannya di google sesuai instruksi temannya.

Ia mengatakan bahwa apa yang dijelaskan teman muslimnya itu sama persis yang ia baca di google. Namun itu berlalu begitu saja.

Meski begitu Rini masih sering ke gereja tiap hari minggu hingga empat kali, dan menyadari bahwa ia tidak seperti biasanya lagi.

"Bukannya tidak semangat, tapi saya merasa buka kitab itu tidak seperti dulu, biasanya saya itu kalau ayat ini langsung buka. Tapi waktu itu saya merasa kaya orang linglung, buka itu nggak kepegang dan merasa aneh karena biasanya saya sangat cepat mengikuti dan buka kitabnya namun hingga akhir saya tidak bisa," katanya lagi dalam video berdurasi 37 menit itu.

Di bulan berikutnya, Rini selalu memiliki kesibukan tiap hari minggunya hingga tidak dapat ke gereja, entah itu kebetulan ataukah semua adalah rencana Tuhan.

Semua kejadian yang dialaminya membuatnya semakin keseringan mencari tahu tentang Islam, dan bertepatan dengan keadaan kosnya yang tiba-tiba kosong. Padahal biasanya kos-kosannya selalu terisi.

"Saya iseng lagi, cari zikir untuk lancar rezeki, dan menemukan, oh untuk lancar rezeki itu baca ya fattah ya razzaq"

Iseng, semua kegiatan Rini selalu mengucapkan kalimat ya fattah ya razzaq, dan selang hari keempat semua kosnya tiba-tiba terisi penuh.

"Akhirnya saya berani cerita ke temen dekat muslim saya. Saya ceritakan semua kejadian yang saya alami dari awal hingga ya fattah ya razzaq."

"Ya Allah Rin itu kamu itu dapat hidayah, kata teman saya sambil menangis. Saya bertanya hidayah itu apa? Lalu, teman saya menjawab hidayah dari Tuhan dan nggak semua orang seperti itu," jelasnya.

Merasa tertarik, Rini kemudian ingin belajar salat dan meminta temannya untuk mengajarinya. Dari wudu hingga salat.

Kemudian untuk pertama kalinya Rini diajak salat di masjid. Ia sedikit kaget dan bingung, karena ternyata shaf salat antara perempuan dan laki-laki dipisah.

"Saya bingung, saya ikut yang mana? Ternyata shaf laki-laki beda sama perempuan sampe teman saya maju ke depan saja dan suruh saya belajar dulu ikut gerakannya," katanya.

Rini kemudian yakin ingin memeluk Islam. Sebagai seorang single parent dengan anak-anak yang sudah dewasa. Ia meminta izin pada anaknya. Anak-anaknya ternyata mendukung ibunya memeluk Islam.

"Anak saya hatinya seluas samudera. Saya malah dikasih tahu, ibu kalau masuk Islam nggak boleh tinggalin salat," ujar Rini terharu.

Ia menceritakan nikmat demi nikmat menghampirinya tanpa ia sangka-sangka. Jika kehidupan sebelumnya penuh amarah, kini Rini merasa lebih damai setelah memeluk Islam.

[SuaraSulsel.id]

Iklan Bawah Artikel