Kapan Niat Shalat Dilakukan? Ini Penjelasannya

 

Mediadakwah.online - (Republika.co.id), JAKARTA -- Niat adalah kebulatan hati untuk melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Itulah pula hakikat keikhlasan.

Kebulatan hati ini dapat terpenuhi walaupun tidak diucapkan (dilafazkan). Oleh karena itu, niat tidak harus diucapkan (dilafazkan).

Para ulama sepakat, niat dalam salat hukumnya wajib. Hal ini antara lain berdasarkan firman Allah SWT dalam surah al-Bayyinah ayat lima ("Mereka tidak diperintah kecuali beribadah kepada Allah dalam keadaan ikhlas/memurnikan ketaatan kepada-Nya"). Selain itu, hadis Rasul SAW yang mengatakan, syarat atau kesempurnaan amal adalah adanya niat.

Baca juga : Tegas! Ustaz Adi Hidayat Siap Bawa Penyebar Fitnah Donasi Palestina ke Jalur Hukum

Menurut empat mazhab

Menurut mazhab Hanafi, Hambali, dan mayoritas ulama mazhab Maliki, niat shalat adalah syarat. Artinya, niat tidak termasuk bagian dari shalat.

Menurut mazhab Syafi'i dan sebagian ulama Maliki, niat shalat wajib terpenuhi dalam shalat, yakni pada awal salat. Oleh karena itu, mereka menamainya rukun shalat.

Mazhab Abu Hanifah mensyaratkan bersambungnya niat dengan takbiratul ihram (takbir), dan tidak boleh ada sesuatu selain aktivitas yang berkaitan dengan shalat yang memisahkan antara niat dan takbir itu. Kalau yang memisahkannya amalan shalat--seperti berwudhu atau berjalan menuju ke masjid--maka niat shalat itu yang dilakukan sebelum berwudhu atau pergi ke masjid masih berlaku. Maka, yang bersangkutan dapat shalat dengan mengucapkan takbir, walaupun ketika itu ia tidak berniat lagi. Bagi mazhab Abu Hanifah, niat tidak harus bersamaan dengan takbir.

Mazhab Hambali hanya menggarisbawahi, niat shalat boleh dilakukan sebelum takbir, asalkan tidak ada tenggang waktu yang lama antara niat dan takbir itu. Ulama-ulama mazhab Hambali beralasan, menyatukan niat dengan takbir merupakan sesuatu yang menyulitkan, padahal Allah SWT telah berfirman: "Dia (Allah) tidak menjadikan atas kamu dalam urusan agama sedikit kesulitan pun" (QS 22: 78).

Mazhab Maliki mewajibkan yang shalat menghadirkan niatnya saat takbiratul ihram atau sesaat sebelumnya.

Adapun ulama-ulama bermazhab Syafi' i mewajibkan terlaksananya niat bersamaan dengan aktivitas shalat, paling tidak pada awal shalat--saat takbiratul ihram. Sebab, niat adalah maksud hati yang berbarengan dengan aktivitas. Jika maksud tersebut dihadirkan sebelum aktivitas, maka namanya bukan niat, melainkan azam. Kesimpulannya, niat shalat harus bersamaan dengan takbiratul ihram, bukan sebelumnya dan bukan pula sesudahnya. Niat itu pun tak mesti diucapkan (dilafazkan).

Baca juga : Bagaimana Hukum Salat Subuh Tidak Pakai Doa Qunut karena Tidak Hafal? Ini Penjelasannya

Seseorang yang melaksanakan shalat dengan mengucapkan, misalnya "Saya niat shalat, Allahu Akbar saya niat," maka ucapan "saya niat" yang kedua ini membatalkan shalatnya. Sebab, ini merupakan ucapan yang tidak dibenarkan untuk diucapkan dalam shalat.

Wallahu a’lam bis-shawab

[Republika]

Iklan Bawah Artikel