Irfan Seventeen - Citra Monica Bakal Dinikahkan Petugas KUA, Bagaimana Menurut Islam?

 

Mediadakwah.online - (okezone.com) Jakarta - Ifan Seventeen akan menikahi Citra Monica pada 29 Mei 2021. Namun dari berkas, Citra Monica tampaknya tidak akan dinikahkan oleh ayah kandungnya yang dipastikan berhalangan hadir. Hal itu disampaikan penghulu KUA Grogol Petamburan, Jakarta Barat, M. Lubis.

“Seharusnya yang menikahkan kan ayah kandungnya. Tapi karena ayah Mbak Monica berada di Kalimantan dan tidak bisa hadir karena satu dan lain hal,” ujar M. Lubis seperti dikutip dari channel YouTube KH Infotainment, Selasa (25/5/2021).

Meski begitu, ayah Citra Monica dipastikan sudah menyerahkan surat taukil wali nikah yang ditujukannya kepada KUA Petamburan. Oleh karenanya, saat membacakan ijab kabul nanti, Ifan akan berjabat tangan dengan petugas KUA.

Lantas bagaimana padangan Islam soal wali nikah. Siapa yang berhak menikahkan pengantin perempuan? Dalam Islam wali nikah adalah salah satu dari 5 rukun sahnya akad nikah. Tanpa adanya wali nikah maka tidak ada akad nikah, tidak ada pernikahan.

Baca juga : Masya Allah, 5 Pemain Ikatan Cinta Ini Rajin Puasa Senin Kamis, Ada Ikbal Fauzi hingga Ayya Renita

Namun apakah wali nikah itu harus ayah kandung saja? Dikutip dari laman Kemenag, Drs. Juhar selaku Penghulu Fungsional Madya KUA Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat menjelaskan soal itu yakni:

Macam dan Syarat Wali Nikah

A. Pembagian Wali Nikah

1. Wali Nasab. Yang dimaksud wali nasab yaitu wali berhubungan tali darah dari pihak ayah dengan perempuan yang akan nikah/kawin. Orang-orang yang termasuk ke dalam wali nasab itu adalah sebagai berikut:

2. Wali aqrab, yaitu:

Ayah kandung

Ayah dari ayah kandung (kakek)

3. Wali ab’ad, yaitu:

Saudara laki-laki kandung

Saudara laki-laki seayah

Anak saudara laki-laki kandung

Anak saudara laki-laki seayah

Paman kandung

Paman seayah

Anak paman kandung

Anak paman seayah

4. Wali Mu’thiq

Yaitu orang yang menjadi wali terhadap perempuan bekas hamba sahaya yang dimerdekakannya.

5. Wali Hakim: yaitu orang yang menjadi wali dalam kedudukannya sebagai hakim atau penguasa yang diangkat oleh negara yang telah ditauliyahkan sebagai wali hakim.

Dasarnya adalah hadis Nabi dari Aisyah menurut riwayat empat perawi hadits selain An Nasai yang mengatakan:

"Bila wali itu tidak mau menikahkan, maka sultan menjadi wali bagi perempuan yang tidak lagi mempunyai wali."

Adapun sebab-sebab berpindahnya wali nikah itu kepada wali hakim adalah sebagai berikut:

1. Calon mempelai wanita itu tidak mempunyai wali nasab sama sekali.

2. Walinya mafqud, artinya tidak tentu keberadaannya.

3. Wali sendiri yang akan menjadi mempelai pria, sedang wali yang sederajat dengan dia tidak ada.

4. Wali nikah berada di tempat yang jaraknya sejauh masaful qasri (sejauh perjalanan yang membolehkan sholat qashar) yaitu 92,5 km.

5. Walad zina: anak yang lahir akibat dari perbuatan zina sebelum melaksanakan pernikahan, karena dia hanya bernasab kepada ibunya.

6. Walad ‘aqid: anak pungut (adopsi) sementara ayahnya (walinya) tidak diketahui oleh yang mengadopsi (memungut/mengasuh).

7. Wali nikahnya berada dalam penjara atau tahanan yang tidak boleh dijumpai.

8. Wali nikahnya melakukan ibadah haji atau umrah.

9. Walinya ‘adhal: artinya wali nikahnya yang tidak bisa atau tidak mau menikahkan wanita yang telah baligh, berakal dengan seorang laki-laki pilihannya. Sedangkan masing-masing pihak menginginkan pernikahan itu dilaksanakan.

Baca juga : Konsumsi Buah Zaitun, Bisa Cegah 4 Dampak Buruk Radikal Bebas!

Adapun sebab-sebab berpindahnya wali nikah itu kepada wali hakim adalah sebagai berikut:

1. Calon mempelai wanita itu tidak mempunyai wali nasab sama sekali.

2. Walinya mafqud, artinya tidak tentu keberadaannya.

3. Wali sendiri yang akan menjadi mempelai pria, sedang wali yang sederajat dengan dia tidak ada.

4. Wali nikah berada di tempat yang jaraknya sejauh masaful qasri (sejauh perjalanan yang membolehkan sholat qashar) yaitu 92,5 km.

5. Walad zina: anak yang lahir akibat dari perbuatan zina sebelum melaksanakan pernikahan, karena dia hanya bernasab kepada ibunya.

6. Walad ‘aqid: anak pungut (adopsi) sementara ayahnya (walinya) tidak diketahui oleh yang mengadopsi (memungut/mengasuh).

7. Wali nikahnya berada dalam penjara atau tahanan yang tidak boleh dijumpai.

8. Wali nikahnya melakukan ibadah haji atau umrah.

9. Walinya ‘adhal: artinya wali nikahnya yang tidak bisa atau tidak mau menikahkan wanita yang telah baligh, berakal dengan seorang laki-laki pilihannya. Sedangkan masing-masing pihak menginginkan pernikahan itu dilaksanakan.

[okezone]

Iklan Bawah Artikel