Utang 2 Miliar Lunas lepas dari Riba, Nih Amalan Hijrah Saptuari

 

Mediadakwah.online - (hops.id) - Hidup bebas dari jerat utang adalah nikmat. Apalagi hidup lepas dari riba. Nggak terbayangkan bagaimana bahagianya pengusaha di Yogyakarta, Saptuari Sugiharto. Pernah berjaya bisnisnya, tapi karena riba bisnisnya kacau dan musibah terus menerus menghampirinya.

Setelah merenung, ternyata bisnisnya kacau dan musibah terus berdatangan berturut-turut karena dia terjerat riba. Namun setelah menetapkan diri untuk hijrah, ogah hidup dengan riba, bisnisnya kini kain berkembang. Dulu terjerat utang 2,1 miliar dengan hijrah akhirnya Saptuari Sugiharto bisa melunasinya dalam waktu berbulan saja. Bagaimana kisahnya?

Tergiur riba

Hidup Saptuari nggak lepas dari bisnis dan ingin hidup mandiri. Saat dia kuliah di UGM, dia mulai memutar otak bagaimana cara agar kuliahnya nggak dibiayai oran tua.

Selama awal sampai kuliah, dia banting tulang berbisnis kecil-kecilan untuk menopang kehidupan kuliah di Yogyakarta. Mulai dari penjaga koperasi mahasiswa, jualan stiker, bisnis ayam, jualan celana gunung, sampai merchandise cetak ia lakoni demi mendapatkan uang dari keringat sendiri.

Bisnisnya yang terakhir yakni cetak merchandise itu cukup matang, bisnis yang ia geluti sejak 2005 itulah yang ia tekuni selanjutnya. Sampai pada 2009, Saptuari punya cabang usahanya di dekat kampus UGM itu lumayan laris. Cabangnya ini ngontrak ruko.

Nah suatu waktu pemilik ruko butuh dana dadakan, dan menari Saptuari untuk membeli ruko yang ia tempati itu. Harganya Rp650 juta.

aptuari kala itu nggak punya duit segede itu, dan ia pun nggak tertarik membeli ruko tempat cabang usahanya.

Tapi pemilik ruko mengajarinya trik supaya bisa memiliki ruko itu walau tak punya duit. Caranya pinjam ke bank. Inilah, kata Saptuari, awal hidupnya terjerat dengan riba.

Namun kala itu, Saptuari tergiur aja dengan prospek usahanya tersebut.

“Jadi pemilih ruko itu bilang, mas gampang kalau nggak punya duit, saya punya teman di bank, bisa selesai (cicilan) selama 15 tahun tiap bulan setor. Saya mulai aja tanda tangan, tak tahu hukum riba, tak paham riba,” kata Saptuari dalam kanal Youtube, dikutip Selasa 6 April 2021.

Bisnis kacau musibah silih berganti

Setelah ruko jadi miliknya, Saptuari fokus pengembangan bisnis cetak merchandise tersebut.

Bisnis berjalan, namun kok bisnisnya terus menerus mengalami kejadian-kejadian aneh dan datang bertubi-tubi gitu. Saptuari kala itu nggak tahu kenapa sih dapat ujian seperti itu.

Ujian pertama, mesin bisnis cetak merchandise yang ia operasikan di ruko itu bolak-balik rusak, sering banget.

“Bordir komputer rusak, sering rusak. Padahal saya merasa bisnis saya halal kok kayak nggak berkah ya,” guman Saptuari kala itu.

Ujian datang lagi. Manajernya yang sudah jadi kepercayaan, membawa lari duit usaha yang nilainya puluhan juta. Nggak selesai di situ, ujian usaha datang dan datang lagi.

“Terus tiga lantai ruko usaha dibobol maling. 12 komputer hilang, laptop, kamera digital, ludes lah. Terus kebakaran itu kejadian di tempat usaha itu,” ujarnya.

Nah anehnya, usaha Saptuari di bidang dan tempat lainnya kok aman-aman saja. Nggak ada kejadian musibah bertubi-tubi gitu.

Bukan cuma usaha di ruko dekat UGM yang kerap kena musibah, seakan janjian, Saptuari pun sering kena musibah.

Dia mengambil leasing mobil pertama kalinya, dengan mobil APV. Saat dia nyetir sendirian ke Purwokerto maghrib-maghrib dia nyemplung di jurang sedalam 5 meter dekat bibir sungai. Dia mengevakuasi sendirian merayap dari dasar jurang ke tempat aman. Untungnya, Saptuari nggak wassalam. Dia bersyukur.

Kejadian lainnya, dengan mobil leasing lain yakni Nissan X Gear, dia kena musibah juga. Saat parkir di dekat Bandara Adi Sucipto, mobilnya dibobol maling. iPad di dalam mobil lenyap. Saptuari ingat betul, iPad itu dia beli lewat kartu kredit.

Saptuari heran, dari ribuan mobil yang parkir kok dia yang kena sasaran maling ya.

Belum berhenti di situ kesialan Saptuari, pernah satu malam dia dihajar orang.

Ternyata bukan dia saja yang kena musibah, istrinya pun sial juga.

Bersama istrinya, Saptuari mengaku pernah nangis malam-malam, kehilangan uang Rp350 juta dalam semalam, gara-gara main trading emas. Apesnya duit Rp350 juta itu 90 persen dari utang.

“Sejak kejadian itu (mobil dibobol maling dan dia dihajar orang) mulai terasa gelisah. Puncaknya saat istri saya berangkat ngaji pakai motor leasingan, Honda Scoopy, dia ditabrak orang. Kakinya retak sehingga dia pakai kruk selama 3 bulan, ini beruntun kejadiannya.

Saya nggak ketemu sumber kesialan saya, musibah satu dengan lainnya, membuat saya nggak tenang,” jelasnya.

Keinginan lepas dari riba

Musibah silih berganti ini belum membuat Saptuari sadar dan berhijrah. Kemudian suatu waktu, pada 2014 seingatnya, ada seminar utang dan riba di Yogyakarta yang diisi Ustaz Samsul Arifin.

Entah kenapa Saptuari datang ke seminar itu, tapi dengan rasa berontak dan kalut.

“Saya datang ke sana mikir, apa sih pinjem uang di bank itu dosa, yang dosa itu kan rentenir. Kalau saya kan nggak riba, ngeyel saya. Saya bukan pelaku riba,” kata dia kala itu.

Waktu berlanjut. Suatu waktu Saptuari bertemu teman pengusaha di Jakarta dan ditanyakan apakah Saptuari sudah baca surat Al Baqarah ayat 278-279. Ayat ini mengandung perintah Allah agar meninggalkan riba. Teman pengusaha itu pun menyinggung sial Fatwa MUI soal riba. Perasaan dan pikiran Saptuari menjadi gelisah.

Kemudian rasa gelisah itu makin memuncak kala itu dia membaca kultwit dari Ustaz Samsul Arifin yang mencapai 30 cuitan. Kicauan itu disertai ayah dan hadis seputar riba. Saptuari makin gelisah. Banget.

Puncak kegelisahan itu membawanya pada titik sadar, jangan-jangan selama ini kena musibah gara-gara mempraktikan riba. Saptuari tersentil dengan dua ayat Al Baqarah dan hadis nabi yang mengajak jauhi 7 perkara, salah satunya riba.

Ayat dan hadis itu mengulas praktik riba yang dosa itu banyak pihak yakni yang beri pinjaman, yang mencatat, yang meminjam dan yang menjadi saksi akad riba itu. Dalam praktiknya, Saptuari sebagai nasabah gelisah, dan mungkin kata dia, yang kerja di bank, notaris bisa kena dampak dari riba.

“Akhirnya sata tekadkan, mau punya usaha nol riba, saya bilang istri, Alhamdulillah mendukung. Cuma saya bilang, semua yang aset kita punya jual untuk bayar utang saya. Waktu itu utang saya 13 titik total 2,1 miliar, baik yang ada riba atau tidak,” ujarnya.

Tekad ingin bersih dari riba dan melunasi semua utangnya ini, Saptuari terus berdoa kepada Allah dan minta istrinya terus mendoakan tekadnya itu. Hijrah saling mendoakan.

Ternyata tekadnya hijrah, berdoa dan berusaha keras ini mendapat pertolongan dan kemudahan dari Allah.

Saptuari ngaku banyak keajaiban datang kepadanya. Pertama seteah hijrah istrinya hamil, momen yang ditunggu selama 5 tahun pernikahan.

Kemudian dia memohon kepada Allah agar lancar tekadnya lepas dari riba, dan bernazar ingin lepas dari riba dan utang sebelum anaknya lahir.

Dan ternyata jalan Allah datang. Tiga hari sebelum lahiran istrinya, Saptuari berhasil menutup semua utang dan lepas dari riba.

“Saat ketemu (lahir) anak saya. Saya gendong. Saya bilang ke dia, ayahmu ini seperti engkau, terlahir kembali di dunia seperti engkau,” kata dia.

Amalan lepas dari riba

Saptuari membagikan pengalamannya ritual tekad lepas dari riba. Dia menyarankan agar kamu yang ingin hijrah betul-betul bertaubat kepada Allah. Taubat sebanyak-banyaknya.

“Perbanyak Salat Taubat 2 rakaat kapanpun, doanya dimudahkan selesaikan utang. Kedua bercita-citalah sampai mentok, lunas hutang lunas hutang,” kata dia.

Berikutnya, Saptuari cari kesalahan dan dosamu, tulis daftar dosamu kepada orang tua, kerabat, teman dan lainnya. Datangi mereka dan minta maaf lah ke mereka. Kalau yang disakiti telah tiada, maka sedekah lah atas nama almarhum atau almarhumah. Cuci dosamu dengan sedekah atau wakaf atas nama orang tua yang sudah meninggal dunia.

Selanjutnya, dorong dengan ibadah lainnya.

“Dorong kejabaikan dengan sedekah. Salat 5 waktu, tepat waktu bersama suami istri, baca Alquran, ibadah sunah dilakukan. Sedekah ajaib, kasih makan sebungkus nasi untuk orang nggak mampu dan minta doa ke mereka, sekali waktu selipkan uang ke mereka, minta doakan lagi agar hajat dikabulkan allah. Kekuatan sedekah dan doa orang lain, doa kita bisa tembus ke langit,” katanya.

Tentunya, Saptuari mengatakan, selain doa dan ibadah mendekatkan diri kepada Allah, ikhtiyar supaya bisa lepas dari riba adalah dengan bijak mengatur keuangan. Jangan asal beli barang. Pastikan beli sesuai kebutuhan bukan keinginan.

Saptuari dan istri pun sudah mengikat komitmen, tak akan lagi membuka akad riba baru. Alhamdulillah.

>>>> lihat artikel asli

Iklan Bawah Artikel