Tukang Becak Sumbangkan Seluruh Rezeki ke Masjid, Pak Ustaz Sampai Menangis

 

Mediadakwah.online - (SuaraLampung.id) - Masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam. di masjid, umat Islam biasanya menunaikan salat wajib berjamaah. Ibadah lain juga bisa dikerjakan di masjid.

Seperti membaca Alquran atau menggelar kajian agama. Namun tidak bagi tukang becak di Yogyakarta ini. Awalnya tukang becak ini memanfaatkan masjid untuk tempat membersihkan diri.

Namun tukang becak ini dimarahi oleh salah satu pengurus masjid. Pengurus masjid tak membolehkan lagi tukang becak ini mandi di masjid tersebut.

Masjid bukan tempat mandi, alasan si pengurus masjid. Tukang becak ini lalu menemukan sebuah masjid yang pengurusnya tidak melarangnya mandi di sana.

SuaraLampung.id - Masjid adalah tempat ibadah bagi umat Islam. di masjid, umat Islam biasanya menunaikan salat wajib berjamaah. Ibadah lain juga bisa dikerjakan di masjid.

Seperti membaca Alquran atau menggelar kajian agama. Namun tidak bagi tukang becak di Yogyakarta ini. Awalnya tukang becak ini memanfaatkan masjid untuk tempat membersihkan diri.

Namun tukang becak ini dimarahi oleh salah satu pengurus masjid. Pengurus masjid tak membolehkan lagi tukang becak ini mandi di masjid tersebut.

Masjid bukan tempat mandi, alasan si pengurus masjid. Tukang becak ini lalu menemukan sebuah masjid yang pengurusnya tidak melarangnya mandi di sana.

"Ustadz, saya mau infaq untuk masjid," ungkap sang tukang becak seraya menyerahkan enam lembar uang kertas berwarna biru bergambar I Gusti Ngurah Rai atau Rp 50 ribu.

"Kok banyak, Pak?" sahut Ustadz Muhammad Jazir, Ketua DKM Masjid Jogokariyan, terheran-heran.

Ia tahu uang Rp 300 ribu merupakan nominal yang sangat besar bagi seorang tukang becak.

"Ini uang BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang baru saya terima ustadz," jawab sang tukang becak.

Kata-kata yang keluar dari mulut sang tukang becak sontak membuat sang  ustadz berkaca-kaca.

"Sudah lama saya ingin menyumbang masjid ini pak. Saya tiap hari mengayuh becak di daerah sini. Cukup jauh dari rumah. Saya sangat memerlukan masjid untuk ganti baju, mandi, dan sebagainya," papar sang tukang becak.

"Awalnya, saya pernah ke masjid lain untuk mandi, tapi kemudian saya dimarahi, 'masjid ini bukan tempat mandi!' katanya."

"Lalu saya datang ke masjid ini karena dengar dari teman, Masjid Jogokariyan sangat ramah untuk siapa saja. Dan saya membuktikannya," tutur sang tukang becak.

Ia kemudian menuturkan alasannya mengapa ingin berinfaq ke masjid Jogokariyan.

"Saya mandi pagi dan siang hari tidak ada yang memarahi. Bahkan dipersilakan jika butuh sesuatu. Saya jadi suka dengan masjid dan jadi suka sholat berjamaah, Ustadz," paparnya.

"Sejak saat itu saya ingin berinfaq untuk masjid ini jika punya uang. Dan alhamdulillah sekarang saya dapat BLT," pungkasnya.

Mendengar cerita dari tukang becak tersebut, sang ustadz tak kuasa menahan tangis karena haru.

Petikan cerita di atas membuat pemilik akun @MasKarebet_21 menyimpulkan bahwa masjid semestinya melayani umat dan menjadi solusi.

Ketika pelayanan masjid dirasakan oleh umat, umat merasa memiliki dan dengan ikhlas berinfaq kepada sesuatu yang mereka cintai.

>>>> Lihat artikel asli

Iklan Bawah Artikel