Penemuan Kota Emas Raja Fir'aun: Al-Qur'an Memang Bukan Fiksi

 

Mediadakwah.online - (sindonews.com) - Kisah para Nabi yang digambarkan Al-Qur'an bukanlah fiksi. Kini, para pakar dibuat terpana dengan informasi akurat yang disampaikan kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW itu.

Pakar berkeseimpulan bahwa sangat agung dan suci contoh-contoh yang diberikan ayat Al-Quran tentang tubuh Fir’aun . Sebab, penyelidikan dan penemuan modern telah menunjukkan kebenaran dari risalah Al-Quran mengenai sejarah mengenai itu.

Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman." (QS Yusuf: 111)

Al-Quran telah mendiskripsikan tentang Fir'aun di era Nabi Musa AS secara detail. Firaun yang sombong karena sukses membangun negerinya. Fir'aun yang menolak ajaran tauhid yang dibawa Nabi Musa dan seterusnya.

Kota Emas

Kini, fakta terbaru yang berhasil diungkap pakar arkeologi adalah penemuan ' kota emas yang hilang'. Ahli Arkeologi terkenal Mesir, Zahi Hawass menyebut ini merupakan kediaman lagenda Lembah Raja di era kerajaan Fira'un.

Kota ini ditaksir berusia 3.000 tahun yang berasal dari pemerintahan Amenhotep III, dan terus digunakan oleh Tutankhamun dan Ay.

Situs kota yang ditemukan itu diyakini sebagai pemukiman administrasi dan industri terbesar di era itu, yang terletak di tepi barat Luxor.

"Penemuan kota yang hilang ini adalah penemuan arkeologi terpenting kedua sejak makam Tutankhamun," kata Betsy Bryan, seorang profesor Egyptology di Universitas Johns Hopkins dan anggota misi arkeologi tersebut, dalam pernyataan, seperti dikutip GulfNews, Jumat (9/4/2021).

Penemuan ini melengkapi penemuan terpenting di Dunia lainnya. Sebelumnya pada 2019 kereta yang digunakan Raja Fira'un untuk mengejar Nabi Musa AS juga ditemukan.

Arkeolog Ron Wyatt, mengklaim telah menemukan bangkai roda kereta tempur kuno yang berada di dasar Laut Merah pada tahun 1988. Ron Wyatt mengatakan bahwa bangkai kereta tempur Pharaoh yang tenggelam di Laut Merah tersebut digunakan saat mengejar Musa bersama para pengikutnya.

Jauh sebelum itu, yakni pada 1896, purbakalawan Loret, menemukan jenazah Firaun dalam bentuk mumi di Wadi al-Muluk (Lembah Para Raja) yang berada di daerah Thaba, Luxor, seberang Sungai Nil, Mesir.

Pada 1907, seorang Ahli arkeologi dan sejarah, Elliot Smith, membuka pembalut-pembalut mumi itu dan ternyata badan Fir’aun tersebut dalam keadaan utuh. Kemudian pada Juni 1975, seorang Ahli Bedah asal Prancis, Maurice Bucaille, mendapat izin untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang mumi tersebut.

Dia menemukan bahwa jasad mumi itu merupakan Fir’aun yang meninggal di laut. Adapun bukti-bukti tanda meninggalnya di laut adalah, terdapat bekas-bekas garam yang memenuhi sekujur tubuhnya. Walaupun sebab kematiannya, menurut dia, diakibatkan oleh shock.

Bucaille pada akhirnya berkeseimpulan bahwa sangat agung dan suci contoh-contoh yang diberikan ayat Al-Quran tentang tubuh Fir’aun. Sebab, penyelidikan dan penemuan modern telah menunjukkan kebenaran dari risalah Al-Quran mengenai sejarah mengenai itu.

Pelajaran

Nah, jauh sebelum ilmu pengetahuan modern mampu menemukan jasad Firaun, Al-Qur'an terlebih dulu mengisyaratkan bahwa jasadnya akan diketemukan. Namun, penemuan jasad tersebut ditujukan Allah sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran Surah Yunus ayat 90-92 berbunyi:

۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنْتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut. Mereka pun diikuti oleh Fir’aun dan tentaranya, karena mereka hendak menganiaya dan menindas (Bani Israil).

Ketika Fir’aun telah hampir tenggelam, ia berkata: saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang disembah oleh Bani Israil dan saya termasuk orang yang berserah diri (kepada-Nya).

(Allah menyambut ucapan Fir'aun ini dengan berfirman) Apakah kamu (baru kamu percaya) padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Hari ini Kami selamatkan badanmu, supaya kamu menjadi pelajaran bagi (generasi) yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”.

Prof Quraish Shihab dalam bukunya berjudul Mukjizat Al-Quran menjelaskan, kalimat dalam ayat di atas yang perlu digarisbwahi adalah: “Hari ini Kami selamatkan badanmu, agar engkau menadi pelajaran bagi generasi yang datang sesudahmu.”

Menurut Quraish Shihab, masyarakat luas memang mengetahui bahwa Fir’aun tenggelam di Laut Merah ketika mengejar Nabi Musa dan kaumnya. Tetapi menyangkut keselamatan badannya dan menjadi pelajaran bagi kaum sesudahnya, merupakan satu hal yang tidak diketahui pada masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan hal ini pun tak disinggung dalam kitab Perjanjian Lama.

Pada masa Al-Quran turun pada 15 abad lalu, tidak seorang pun mengetahui sebenarnya penguasa yang tenggelam itu berada.

Kalau bukan karena kuasa Allah SWT, dari mana kiranya Rasulullah SAW dapat menyampaikan mengenai keberadaan jasad Fir’aun? Kini bahkan kereta dan kota emas Raja Fir'aun pun ditemukan. Penemuan ini sudah barang tentu ditujukan Allah sebagai pelajaran bagi generasi selanjutnya.

>>> Sumber : sindonews.com/artikel asli

Iklan Bawah Artikel