Masuk Islam, drg Carissa Grani Dianiaya Suami, Dibenturkan ke Tembok, Diancam Dibunuh Ini Kisahnya

 

Mediadakwah.online - (Pojoksatu.id), JAKARTA – Pindah agama bukan hal mudah bagi drg Carissa Grani. Ia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) oleh suaminya sendiri.

Dokter gigi yang berstatus sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) di Jakarta ini resmi memeluk agama Islam pada 15 Maret 2020.

Awalnya, keputusan drg Carissa Grani memeluk agama Islam tidak diketahui suami.

Ia salat dan puasa tanpa diketahui suaminya yang berprofesi sebagai pengacara.

Ramadhan 2020 dimanfaatkan dengan baik oleh Carissa untuk mendalami agama Islam.

Carissa belajar Alquran. Ia membaca terjemahan Alquran hingga tuntas 30 juz.

Minggu ketiga Ramadhan, drg Carissa Grani tuntas membaca terjemahan Alquran.

Baca Terjemahan Alquran 30 Juz

Dokter gigi lulusan Universitas Indonesia (UI) bertekad untuk cepat-cepat menamatkan terjemahan Alquran dengan harapan bisa mendapatkan kesalahan agar dia bisa kembali ke agamanya sebelumnya.

“Maksud saya, saya mau nyari kesalahan mas,” ucap Carissa, dikutip Pojoksatu.id dari kanal YouTube, Rasil TV, Selasa (20/4).

“Saya niatnya baca itu (terjemahan Alquran) sampai tuntas cepat-cepat supaya kalau ada salah, gak jadi, mumpung yang tahu baru dikit. Maksud saya tujuannya itu,” ucap drg Carissa Grani.

Semakin lama membaca terjemahan Alquran, Carissa semakin yakin bahwa pilihannya tidak salah. Sebab, dia tidak menemukan kesalahan apapun dalam Alquran.

“Kok dari depan sampai terakhir, makin ke sini juz 27, kok makin yakin dan saya gak nemukan salah, entah saya awam gitu ya,” ucapnya.

Padahal, pada kitab sebelumnya, dia menemukan banyak ayat yang kontradiktif.

“Yang sebelumnya itu, di kitab saya sendiri itu kok kayak gini, kok kontradiksi, kok di sini bilang ini, di situ bilang gini. Banyak banget yang kontradiksi,” bebernya.

Ketahuan Suami Saat Salat Tahajud

Setelah semakin yakin, Carissa akhirnya menyampaikan kepada ustazah yang membimbingnya bahwa kemungkinan keputusannya pindah agama akan segera diketahui oleh suami dan keluarganya.

Benar saja, pada April 2020, teman kantor mengetahui Carissa masuk Islam dan pada 15 Mei ketahuan suami.

Suami Carissa pun marah. Ia meminta agar Carissa membatalkan keputusannya untuk pindah agama.

Suami mengancam akan membunuh Carissa jika tetap pada keputusannya.

Meski diancam dibunuh, Carissa tetap menjalankan ibadah secara diam-diam.

Ia tetap melaksanakan ibadah salat dan berpuasa pada bulan Ramadhan, April hingga Mei 2020.

Carissa menjalankan ibadah tanpa sepengetahuan suami.

Bagi Carissa, melaksanakan puasa bukan hal baru. Sebab, di agama yang dia anut sebelumnya juga diajarkan untuk puasa. Dan Carissa selalu melaksanakannya.

Namun sepandai-pandainya Carissa menutupi, pada akhirnya tetap ketahuan juga.

Carissa ketahuan suami saat hendak salat tahajjud di kamar anaknya sekitar pukul 03.00 dini hari.

Saat itu, di dalam kamar anaknya tidak ada orang. Anak-anaknya tidur di kamar Carissa bersama suami.

“Saya pikir suami saya sudah tidur, terus saya ambil wudhu, gelar ajadah, terus lagi mau takbir,” ucapnya.

Tiba-tiba suami Carissa membukan pintu kamar dan melihat Carissa sedang siap-siap melaksanakan ibadah salat.

Suami drg Carissa Grani  Mengamuk

Suami Carissa yang berprofesi sebagai pengacara mengamuk. Di luar kamar anak, suami menampar dan menjambak rambut Carissa.

“Saya dipukul arah kuping, saya jatuh langsung. Saya bilang sakit Denny, sakit Denny. Saya keras memang supaya ada tetangga atau pembantu saya yang dengar,” ucapnya.

Carissa kemudian ditarik kembali masuk ke dalam kamar anaknya dan kembali dianiaya. Carissa dibenturkan ke tembok berkali-kali.

“Karena saya teriak-teriak, saya dijambak, ditarik masuk ke dalam kamar anak lagi. Di dalam kamar anak, (saya) dijedot-jedotin ke tembok,” ucapnya.

“Di dalam (kamar) itu saya dijedotin lagi ke tembok, terus dibalikin badan saya, dipukulin lagi,” beber Carissa.

Suami mengancam akan membunuh Carissa dan anaknya jika tetap ngotot memeluk agama Islam.

“Kemarin kan ngancam bunuhnya saya, dia bilang juga ini, kalau kamu tetap begitu, anak kamu itu saya bunuh juga,” ucap Carissa menirukan ucapan suaminya.

Carissa pasrah. Dia dilanda ketakutan. Ia tak tega anak-anaknya menjadi korban.

“Ya ampun, saya mikir kalau saya yang mati, saya enggak apa-apa, yang penting saya mati dalam keadaan muslim. Saya mikir gitu. Tapi kalau anak saya, saya kan takut ya,” jelas Carissa.

Setelah itu, suami membawa Carissa ke rumah orangtuanya. Di sana, Carissa dicaci maki oleh mertua.

Bahkan, Carissa juga masih sempat dipukul oleh suaminya di rumah mertua. Pahanya dipukul suami hingga memar.

Beruntung, sang mertua melarang dan mencegah untuk menganiaya Carissa.

Singkat cerita, Carissa dan suaminya kemudian pulang ke rumahnya.

Drg Carissa Grani Lapor Polisi

Tak lama setelah tiba di rumah, suaminya tidur dari pagi sampai sore hari.

Saat itulah, polisi datang dan meminta Carissa untuk melapor. Carissa sempat menolak karena tak tega kepada suaminya. Namun dia diyakinkan oleh polisi wanita (polwan).

Akhirnya, Carissa ikut ke kantor polisi untuk membuat laporan. Saat berada di kantor polisi, Carissa diminta agar tidak pulang ke rumahnya lagi.

Carissa disarankan untuk membawa anak-anaknya pergi karena dikhawatirkan akan dianiaya oleh suami.

Carissa kemudian menelpon pembantunya untuk menanyakan apakah suaminya masih tidur dan dijawab oleh pembantu  bahwa masih tidur.

“Dari jam 09.00 sampai Ashar masih tidur lho. Biasanya kalau ada suara berisik aja itu langsung bangun. Itu Allah lagi tuh (yang bantu),” ucapnya.

Kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Carissa untuk membawa kabur tiga anaknya yang masih kecil tanpa membawa apa-apa.

Drg Carissa Grani kemudian mengungsi ke Sentul, Bogor Jawa Barat bersama ketiga buah hatinya.

Iklan Bawah Artikel