Kisah "Pendeta Leif Skjetne Menjadi Muslim Usai Bertemu Pengungsi"

 

Mediadakwah.online - (Republika.co.id), Jakarta -- Stockhlom -- Leif Skjetne telah menjadi pendeta Gereja di Swedia selama 30 tahun di Kota Jonkoping Swedia. Banyak orang-orang di sekitarnya yang terheran-heran mengapa pria berusia 77 tahun itu memutuskan memeluk agama Islam.

"Saya masih kesulitan memahami bagaimana Leif bisa berpindah agama. Dia berada di gereja selama 30 tahun. Tetapi, kami tetap saja teman baik," kata salah satu temannya, Par Aj Persson, dilansir dari laman Muslim Convert Stories, Kamis (22/4).

Leif Skjetne dibesarkan di Oslo, Norwegia. Dia pindah ke Smedjebacken pada tahun 1984 di mana dia bekerja sebagai pastor di Norrbarke Parish hingga 1986. Selanjutnya, dia bekerja di pastorate Skillingaryd dan menjadi pendeta di Aker dan Hangshult.

Kemudian, Skjetne banyak bekerja di Hanger-Dannas sebagai pendeta di masa pensiun. Selama menjadi pendeta di Gereja Swedia, Skjetne memiliki kesempatan untuk menangani pengungsi dan masalah mereka. Salah satu pengungsi itu adalah seorang pria Muslim bernama Abdullah.

Skjetne mendapat kesempatan untuk tinggal bersamanya dan mereka akhirnya menjadi teman baik. "Dia menyebut saya ayahnya, ayah kandungnya sudah meninggal. Kami tinggal bersama selama satu setengah tahun," kata Skjetne.

Selama bersama Abdullah, Skjetne mendapat kesempatan untuk mendalami Islam dengan seksama. Abdullah adalah seorang Muslim Maroko yang taat dan dia sholat wajib lima waktu, ditambah dengan ibadah-ibadahnya yang lain. Hal inilah yang memberi jalan bagi Skjetne mantan pendeta, yang saat itu berusia 74 tahun, untuk mempelajari ajaran Islam.

"Agama Kristen dan Islam memiliki banyak kesamaan, dimulai dari Tuhan yang sama. Satu-satunya garis pemisah yang kuat adalah Yesus dan Muhammad (alaihissalam). Namun, Islam memang mengandung semua ajaran Kristen," kata Skjetne.

"Dalam beberapa dekade terakhir, telah terjadi banyak insiden berkobar akibat gerakan ekstremis dan sebagainya. Umat Muslim di seluruh dunia telah menerima perilaku yang tidak menyenangkan," tambahnya.

Setelah Skjetne tinggal bersama Abdullah selama satu setengah tahun, sampailah pada saat di mana para pengungsi di Gereja Swedia harus digusur. Skjetne tak heran dengan keputusan tersebut. "Saya tidak terkejut ketika mereka akhirnya mengusirnya," kata Skjetne.

Pada Musim Gugur 2017 Leif Skjetne menerima Islam, saat tinggal bersama Abdullah. Dia mengubah namanya menjadi Ahmed Skjetne. Ke depan, Ahmed membuat keputusan besar, pindah ke Maroko dan mulai hidup sebagai pensiunan. "Banyak orang telah masuk Islam. Namun, saya mungkin pendeta pertama di Skandinavia yang menempuh rute itu," katanya.

Setelah publik mengetahui Skjetne pindah agama, manajemen Gereja mengutus banyak orang untuk dirinya. Namun, ketika seorang pendeta setua itu membuat keputusan untuk pindah agama, kita hanya bisa percaya bahwa itu adalah keputusan yang dipikirkan dengan matang.

"Satu-satunya perubahan adalah bahasa di sini. Bahasa Arab itu sulit dan saya tidak tahu banyak. Iklimnya bagus, sekitar 35 derajat. Saya kadang-kadang pergi ke masjid karena sudah sulit karena situasi pandemi yang sedang berlangsung," kata Ahmed Skjetne menambahkan.

Ahmed Skjetne tidak membuat pengumuman dirinya telah menjadi mualaf pada 2017 karena saat itu dia masih sebagai pendeta. Apalagi dia telah menjadi pendeta pada sebagian besar usianya. "Keputusan seperti ini berpotensi memengaruhi banyak orang di sekitar saya. Saya tidak ingin itu terjadi," kata Skjetne.

Dia menerima Islam, pindah ke Maroko, dan mulai hidup sebagai pensiunan pendeta dengan pensiun. Skjetne saat ini tinggal di Fez, Maroko, dengan pengungsi Maroko yang dikenalnya, Abdullah.

>>>> Lihat artikel asli

Iklan Bawah Artikel