Kisah Nenek Tunanetra Kerja Jadi Pemecah Batu, Tetap Berbagi Meski Penghasilan Minim

 

Mediadakwah.online - (Merdeka.com) - Masih begitu banyak masyarakat di Indonesia yang bertahan hidup dalam keadaan ekonomi yang buruk. Kemiskinan seolah menjadi momok bagi sebagian masyarakat kecil yang harus berjuang demi melanjutkan kehidupannya.

Seperti nenek tunanetra yang satu ini, di usia senjanya ia harus tetap bekerja keras meski mendapatkan hasil yang begitu minim. Namun sungguh mulia, penghasilan minim tak menjadi penghalang baginya untuk terus berbagi.

Ingin tahu seperti apa kisah mengharukan dari sosok nenek tunanetra ini? Berikut ulasan selengkapnya.

Kerja Jadi Pemecah Batu

Mbah Tuminem, sosok nenek tua yang saat ini berusia 80 tahun dan harus tetap bekerja demi berjuang melawan kemiskinan serta melanjutkan hidupnya. Tak seberuntung orang lainnya, penglihatan Mbah Tuminem terganggu atau bisa disebut tunanetra.

Namun keterbatasan yang ada dalam dirinya tak menjadikan Mbah Tuminem tidak bekerja. Bahkan di usianya yang sangat tua dengan kaki yang ketika dibuat berjalan tertatih itu, ia menjadi seorang pemecah batu.

Sudah 35 Tahun Jadi Tukang Pemecah Batu

Setiap harinya, Mbah Tuminem harus pergi ke bantaran Kali Progo, Yogyakarta untuk mencari batu yang pada nantinya akan dipecah-pecah olehnya. Beliau sudah menjalani profesinya tersebut selama 35 tahun.

Baca Juga : Nenek Ini Hidup Sendirian Meski Memiliki 11 Anak, Minta Doa Pada UAS

Selama 35 tahun itu, banyak sekali rintangan yang dilewati Mbah Tuminem termasuk tanah licin yang cukup berbahaya bagi kesehatannya yang sudah tak prima lagi itu.

"Penglihatannya yang terganggu dan tanah licin sering membuat Mbah terjatuh, bahkan mbah pernah terserempet motor dan kakinya terluka," tulis keterangan dalam video singkat yang diunggah oleh akun Instagram @kitabisacom.

1 Keranjang Batu hanya Dihargai Rp2500

Penghasilan yang didapatkan dari pekerjaan sebagai seorang pemecah batu sangatlah jauh dari kata cukup. Bayangkan saja, satu keranjang batu Mbah hanya diberi harga Rp2500 saja, itupun jika sedang ada orang yang mau membelinya.

"Tapi kalau enggak ada yang beli, Mbah harus pulang dengan tangan kosong," lanjut keterangan yang ada dalam video.

Tetap Berbagi Terhadap Sesama

Penghasilan minim yang didapati oleh Mbah Tuminem tak membuat dirinya berhenti melakukan tindakan mulia dan berhati besar. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat suka berbagi antar sesamanya dalam bentuk sedekah.

Mulai dari menyuapi anak-anak di sekitarnya makan nasi, membagikan orang disekitarnya nasi kotak ketika ada rezeki lebih. Meski dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya, Mbah Tuminem masih seringkali berbagi terhadap sesama. Begitu mengharukan, ia juga mempunyai cita-cita ingin memberikan sembako kepada kaum dhuafa di sekitarnya.

>>>> Lihat artikel asli

Iklan Bawah Artikel