Kirim Pesan Terakhir, Ini 5 Kisah Haru Prajurit KRI Nanggala 402 Asal Jawa Tengah

 

Mediadakwah.online - (Merdeka.com) - Tenggelamnya KRI Nanggala 402 menyisakan duka mendalam, tak hanya bagi TNI Angkatan Laut, namun juga seluruh warga Indonesia. Duka yang lebih mendalam dirasakan sanak saudara, sahabat para kru kapal selam itu.

Mereka berbagi cerita bagaimana pertemuan terakhir dengan kru kapal selam itu serta pesan terakhir yang disampaikan prajurit Hiu Kencana TNI AL itu. Ada pula yang membagikan kenangan bersama para korban ketika mereka masih hidup. Berikut adalah 5 kisah mengharukan prajurit KRI Nanggala 402 asal Jawa Tengah:

Serda Eko Sempat Gagal Empat Kali Masuk TNI AL

Kisah pertama datang dari Kebumen. Di sana tinggal orang tua Serda Eko, Slamet Sarwono. Serda Eko merupakan salah satu prajurit yang dinyatakan gugur dalam peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala 402.

Dari penuturan keluarga kepada Bupati Kebumen, Arif Sugiyanto, Serda Eko termasuk orang yang punya semangat dan dedikasi yang tinggi. Bahkan, untuk bisa menjadi anggota TNI AL, dia empat kali gagal saat mendaftar. Ia baru diterima pada usaha kelima kalinya di tahun 2008.

“Semangat Serda Eko dalam menggapai impiannya patut kita contoh,” kata Arif dikutip dari Liputan6.com pada Senin (26/4).

Kopda Maryono yang Sempat Nyekar ke Makam Orang Tua

Saat ditemui wartawan, Yesika terus memegang foto pamannya, Kopda Maryono. Yesika mengatakan, dua minggu sebelum menjadi korban tenggelamnya KRI Nanggala, Kopda Maryono sempat pulang ke rumah di Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan, Grobogan. Di sana, ia menyempatkan diri untuk bersilaturahmi menemui sang ibu dan nyekar ke makam sang ayah.

Yesika mengatakan, selama ini Kopda Maryono merupakan orang yang sangat sayang dan perhatian pada keluarga. Hingga kini, pihak keluarga terus berharap semoga salah satu anggotanya itu bisa ditemukan.

“Beliau orangnya baik dan bijaksana. Suka memberin nasihat dan motivasi untuk saudara-saudara yang tinggal di desa,” kata Yesika.

Hadiah Natal Terakhir

Kades Ngadipuro, Kecamatan Dukun, Magelang, Agus Iwan, mempunyai kenangan tersendiri dengan Kapten Yohanes Heri, salah satu korban tenggelamnya KRI Nanggala 402. Saat terakhir kali pulang ke Magelang pada Natal 2020, Heri sempat memberi kenang-kenangan berupa topi bergambar KRI Nanggala 402. Bagi Agus, Heri merupakan sosok yang baik, familiar, serta tidak membeda-bedakan dalam berteman.

“Sejak kecil, anak itu dekat dengan saya. Pribadinya sangat baik, familiar, dan suka bergotong-royong. Dia tidak canggung bermain dengan siapapun dan tidak pula membeda-bedakan anak tentara,” ungkap Agus.

Firasat Letda Munawir

Mata Mundzakir berkaca-kaca tatkala mengingat kakaknya, Letda Munawir yang menjadi korban tenggelam Kapal Selam Nanggala. Pertemuan terakhirnya dengan sang kakak terjadi dua minggu sebelum peristiwa nahas itu.

Saat itu, tanpa sebab yang jelas, Letda Munawir sempat menyampaikan kalau di Hari Raya Idulfitri nanti, dia tidak bisa pulang ke kampung halamannya di Kelurahan Pacar, Rembang.

Bagi Mundzakir, Letda Munawir adalah sosok saudara yang baik. Mewakili keluarga, dia mengaku sudah mengikhlaskan jika kemungkinan buruk terjadi. Oleh karena itu di rumahnya, Mundzakir menggelar tahlil untuk mendoakan sang kakak.

“Dulu kakek kami juga anggota TNI. Di keluarga saya ini yang meneruskan menjadi TNI ya kakak saya,” kata Mundzakir dikutip dari kanal YouTube Musyafa Musa.

Pesan Terakhir pada Sang Ibu

Pasangan suami istri Rakyan (58) dan Rosita (56) terus memantau kabar putra sulungnya, Mayor Eko Firmanto yang menjadi korban tenggelamnya KRI Nanggala dari rumah mereka di Tegal, Jawa Tengah.

Dikutip dari YouTube News Semarang TV, Rositah mengatakan anaknya sempat memohon doa restu padanya untuk berlayar dalam rangka latihan perang melalui sambungan telepon. Namun, ia kemudian mendengar kabar kapal yang ditumpangi anaknya itu dari istri Mayor Eko.

“Doain Mas Eko ya ma, biar keluarga sehat, mama di Tegal juga sehat,” kata Rosita sambil menirukan pesan terakhir anaknya.

>>>> Lihat artikel asli

Iklan Bawah Artikel