Cerita WNI Jalani Ramadan di Luxembourg, Berpuasa Sendirian Selama 16 Jam

 

Mediadakwah.online - (Merdeka.com) - Bagi umat Islam dan beriman, menjalankan ibadah puasa tetap sebuah kewajiban ketika tanpa halangan. Beragam tantangan dihadapi ketika berpuasa, apalagi jika tengah berada di luar negeri.

Begitu yang dialami seorang muslimah bernama Agus Wisginanjarsih atau kerap disapa Aan, warga negara Indonesia (WNI) yang sedang berada di Luxembourg. Meski bukan pertama kali berpuasa di negeri orang, baginya berpuasa di tempat kelahirannya, Palembang, adalah paling istimewa dan dirindukan.

Aan sangat merindukan suasana puasa Ramadan di kampung halaman dengan berbagai cerita. Bagaimana gembiranya orang menyambut puasa, salat Tarawih di masjid atau musala, mencari takjil sore hari, teriakan anak-anak muda keliling kampung untuk membangunkan sahur, hingga suara petasan yang acap kali dibunyikan bocah-bocah sekitar rumah.

Namun tidak demikian kisah yang dialaminya ketika berpuasa di Luxembourg yang merupakan negara kecil di antara Prancis, Belgia, dan Jerman. Penduduk negara itu mayoritas beragama Katolik.

"Alhamdulillah saya masih bisa puasa walaupun sendirian di rumah maupun di sekitar rumah," ungkap Aan kepada merdeka.com, Kamis (29/4).

Jika di Indonesia lama puasa hanya 12 jam, namun di negara itu hingga 16 jam lamanya. Menahan lapar dan haus harus lebih ekstra karena saat ini Luxembourg tengah musim spring atau musim semi.

Cuaca mulai cerah namun temperatur udara masih cukup dingin, antara 3-16 derajat celsius. Dalam kondisi itu, seseorang akan sangat mudah kelaparan dan kehausan.

"Sahurnya jam 3-an dini hari dan buka puasa jam 9 malam. Sangat terasa laparnya dibanding ketika puasa di Palembang, belum lagi cuaca di sini tidak mendukung, dingin, dan kering," ujarnya.

Untuk menyiasati agar mampu menahan 'godaan' perut, ketika sahur Aan lebih banyak mengonsumsi air putih di samping menyantap nasi beserta lauk ala kadarnya, roti, dan selai. Sementara buka puasa langsung makan nasi dengan lauk dominan sayur agar mengembalikan tenaga yang lemas seharian.

Baca Juga : Ustadz Abdul Somad-Fatimah Azzahra Resmi Menikah, Ini Cerita di Baliknya

"Di situlah nikmatnya ketika berbuka puasa, dahaga hilang seketika, semuanya seakan-akan terbayarkan ketika waktu masuk Magrib," ujarnya.

Seusai berbuka, lagi-lagi Aan tak bisa menjalankan salat Tarawih berjamaah seperti di Indonesia. Sebab, di kota itu hanya ada satu masjid, itu pun tak bisa melaksanakan salat berjemaah lantaran dilarang selama masa pandemi Covid-19.

Begitu juga dengan berbuka puasa bersama WNI atau pribumi yang muslim seperti tradisi di Indonesia. Alhasil, dia hanya berbuka sendiri di rumah karena pemerintah setempat melarang berkumpul lebih dari tiga orang.

"WNI terpencar-pencar, lagi pula waktu berbuka sudah malam, waktunya tidur," terangnya.

Karena itu, tidak ada menu buka puasa khusus di Luxembourg. Semuanya tergantung dengan selera masing-masing. Beragam menu makanan bisa dicari ketika lagi malas memasak

"Ketersediaan makanan halal sama sekali tidak masalah, banyak pilihan," kata dia.

>>>> Lihat artikel asli

Iklan Bawah Artikel