Mbak You Pernah Ramal Presiden Jokowi, Bagaimana Hukum Meramal dan Mendatangi


Mediadakwah.online - (Akurat.co) -  Secara sederhana, ramalan dipahami sebagai usaha-usaha untuk mendapatkan pengetahuan atas pertanyaan atau situasi masa yang akan datang melalui cara-cara ritual tertentu. Belakangan, dalam ranah publik kita dihebohkan dengan seseorang yang mengaku telah meramal segala bentuk kejadian, bahkan sampai kecelakaan pesawat Sriwijaya pun ia klaim telah diramalnya.

Mengenai hal ini, dalam Islam sendiri segala bentuk ramalan itu diharamkan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nisa ayat 48, yakni:

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِۦ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱفْتَرَىٰٓ إِثْمًا عَظِيمًا

Innallāha lā yagfiru ay yusyraka bihī wa yagfiru mā dụna żālika limay yasyā`, wa may yusyrik billāhi fa qadiftarā iṡman 'aẓīmā

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.

Selain itu, firman Allah lainnya terkait hal itu terdapat pada QS. An-Naml ayat 65, yakni:

قُل لَّا يَعْلَمُ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلْغَيْبَ إِلَّا ٱللَّهُ ۚ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Qul lā ya'lamu man fis-samāwāti wal-arḍil-gaiba illallāh, wa mā yasy'urụna ayyāna yub'aṡụn

Artinya: “Katakanlah: "Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan”.

Mengenai ramalan sendiri, secara khusus Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 34, yakni:

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

Innallāha 'indahụ 'ilmus-sā'ah, wa yunazzilul-gaīṡ, wa ya'lamu mā fil-ar-ḥām, wa mā tadrī nafsum māżā taksibu gadā, wa mā tadrī nafsum bi`ayyi arḍin tamụt, innallāha 'alīmun khabīr

Artinya: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Terkait hal ini, Rasulullah Saw., menegaskan bahwa ketika seseorang mendatangi peramal atau dukun untuk menanyakan sesuatu yang akan terjadi dan ia mempercayainya, maka kerugiannya minimal ada dua hal, yakni tidak diterima salat selama 40 malam dan digolongkan sebagai orang yang kufur. Hal tersebut dapat dirujuk pada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Al-Hakim dari Abu Hurairah.

Sementara Imam Al-Baghawi dalam kitab Syarhus Sunnah memaparkan bahwa perkara yang diharamkan adalah meramal dengan melempar kerikil, ilmu astrologi (nujum/perbintangan), ilmu ramal dengan garis tangan, meramal dengan mangkuk, dan ramalan-ramalan yang sejenisnya. Maka hal itu dinilai sebagai praktek perdukunan.

Ibnu Hajar dengan mengutip ucapan Khaththabi menyebut bahwa dukun adalah orang yang memiliki otak yang tajam, hati yang jahat, dan tabiat yang keras. Sehingga, setan suka berteman dengannya karena memiliki kesamaan dalam hal perkara-perkara tersebut. Bahkan setan pun membantu mereka dengan penuh daya upaya.

Demikianlah paparan mengenai hukum ramalan dalam Islam yang dinilai sebagai haram bahkan boleh jadi dekat pada musyrik dan kufur. Wallahu a’lam.

>>>> lihat artikel asli

 

 

 

Iklan Bawah Artikel