Masyaallah, Masjid di Ponorogo Ini Tetap Terawat Meski Kampungnya Telah Mati

Mediadahwah.online - (detik.com) - Ponorogo - Ada kampung mati di Ponorogo. Meski kampungnya telah mati, namun sebuah masjid yang ada di sana tetap terawat.

Yang disebut kampung mati ini merupakan Kawasan Sumbulan, Dusun Krajan Satu, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan. Di kawasan ini masih ada empat rumah, satu masjid dan satu pemakaman kuno.

Masjid itu juga bernama Masjid Sumbulan. Masjid dibangun oleh Ali Usman sekitar tahun 1850, yang babat alas atau buka permukiman. Kemudian diteruskan oleh menantunya Ali Murtadho.

Selain menjadi tempat ibadah, masjid tersebut juga menjadi tempat belajar agama seperti mengaji dan lain-lain. Namun sejak tahun 1971, sudah jarang kegiatan mengaji di sana. Generasi muda kala itu memilih tinggal di kota atau dekat dengan keramaian.

Salah seorang warga yang pernah tinggal di kampung mati itu, Tohari menjelaskan, setiap zuhur dia masih menyempatkan diri salat di Masjid Sumbulan. Menurutnya, penghuni terakhir Kawasan Sumbulan adalah adik kandungnya, Mustofa. Sejak tahun 2016 adiknya memilih pindah ke Tegalsari, Jetis.

"Saya memang asli sini, salat di sini karena ingin membersihkan masjid sekaligus lihat rumah prabon (rumah peninggalan orang tua)," kata Tohari kepada wartawan, Kamis (4/3/2021).

Hingga saat ini, masjid di kampung mati itu masih tetap terawat. Beberapa keluarga yang tinggal di Kadipaten sering berkunjung sekadar menyapu dan mengepel hingga salat. Seperti yang disampaikan Kades Plalangan Ipin Herdianto.

"Kadang orang yang di sawah juga mampir ke situ untuk ibadah kan masih lengkap, air juga masih ada," kata Ipin.

Ipin juga menerangkan dulu di sekitar masjid itu bukan pesantren, tapi pondok angkring. Untuk kegiatan mengaji zaman dulu. Jadi untuk penyebaran Islam di Sumbulan.

sumber : detik.com/artikel asli

 

Iklan Bawah Artikel