Masya Allah, Ini Kisah Sopir Hidup Pas-Pasan Mampu Asuh 27 Anak Yatim

 

Mediadakwah.online - (Merdeka.com) - Kemampuan finansial tampaknya tidak menjadi ukuran kebesaran hati seorang manusia. Kondisi ini tercermin dari pribadi pasangan suami-istri, Joko Mulyanto (48) dan Tatik Musyarofah (48).

Bekerja sebagai sopir, Joko mampu menampung hingga 27 anak yatim dan terlantar di rumahnya. Salah satunya menderita Cerebral Palsy.

Joko dan Tatik menjadi orangtua bagi 27 generasi muda penerus bangsa. Jumlah ini diakui terus bertambah lantaran banyak juga anak-anak kurang mampu yang sering datang ke tempatnya meski tak menginap.

Joko mengaku tidak ingin menolak kehadiran anak-anak tersebut lantaran dirinya yakin mereka datang sudah dengan rezekinya masing-masing. Ini lah yang membuat Joko dan Tatik yakin anak-anak tersebut tidak akan kekurangan dalam asuhan mereka.

"Saya tidak ingin berhenti (menampung anak-anak yatim dan terlantar). Ya terserah Allah (siapa saja yang datang)," kata Joko saat berbincang dengan merdeka.com.

Tatik memaparkan, semua bermula dari sekitar tahun 2002 di mana imbas krisis 1998 masih tersisa. Semula, Tatik yang saat itu masih bekerja, menawarkan bantuan untuk mengasuh anak pencuci baju di rumahnya. Dari situ, muncul anak-anak lain yang membutuhkan pertolongannya.

"Ada 2 lagi, anak yatim piatu, ibunya meninggal kanker rahim, setahun kemudian bapaknya meninggal kanker paru. Lama-lama tambah lagi," papar Tatik.

Hingga mencapai 15 orang anak, Joko banting tulang menjadi sopir untuk memenuhi kebutuhan anak kandung serta anak-anak asuhnya. Joko bahkan bekerja sebagai sopir di tiga tempat hingga waktunya untuk istirahat sangat terbatas.

"Kerjaan Bapak waktu itu masih jadi sopir antar jemput sekolah. Saking ngejar biaya sekolah anak, bapak kerja malam, jam 10 malam sampai jam 4 pagi Bapak antar-jemput grup musik kelab malam. Pulang jam 4, tidur sebentar, jam 5 berangkat lagi antar-jemput anak TK, pulang jam 12, jam 1 antar-jemput anak SMP. Jadi Bapak bertahun-tahun begitu," papar Tatik.

Semakin banyak anak yang ditampung, ruangan di rumahnya semakin tak mencukupi. Pada 2010, Joko dan Tatik memutuskan untuk pindah rumah dengan membangun tempat yang lebih besar.

Niat ini diakui Joko dan Tatik tidak didukung oleh kemampuan finansial. Modal mereka hanya pekerjaan Joko menjadi sopir dan sejumlah tabungan. Untuk mendapatkan penghasilan yang lebih besar, Joko pindah bekerja menjadi sopir di sebuah rumah produksi.

Bangunan yang kini ditempati Joko dan Tatik bersama anak-anak asuhnya dibangun dari kerja keras, tambal sulam dan kebaikan hati orang-orang di sekitarnya, bahkan pekerja bangunan dan pemilik material turut membantu berdirinya bangunan tersebut.

"Saya sama Bapak nabung bukan nabung uang, tapi nabung material. Ada uang sedikit, saya kasih ke material untuk semen sama besi. Ada untuk material, untuk gaji tukang (bangunan) enggak ada. Setiap minggu kami bingung gimana bayar tukang. Alhamdulillah yang kerja itu ngerti, mereka hanya minta beras," jelas Tatik.

Seiring waktu, bangunan tempat Joko dan Tatik bersama anak-anak asuhnya pun berdiri. Semakin banyak anak-anak yatim dan terlantar yang datang ke rumahnya. Joko dan Tatik tak pernah menolak siapa pun yang datang. Ada 27 anak menetap di bangunan tersebut, selebihnya datang dan pergi.

Kini, Joko dan Tatik bersama anak kandung dan anak-anak asuhnya menempati bangunan di Jalan Warung Silah, Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

>>> baca artikel asli

Iklan Bawah Artikel