Kisah Inspiratif : 6 Bersaudara Asal Ngawi "Berjodoh" Dengan UNS Solo, Nyambi Kerja Demi Lulus Kuliah

 

Mediadakwah.online - (Solopos.com) - Enam bersaudara asal Kecamatan Mantingan, Ngawi, Jawa Timur, menorehkan kisah inspiratif mampu menyelesaikan kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo meski di tengah keterbatasan ekonomi.

Tak cuma lulus S1, keenam putra-putri pasangan almarhum Abdullah Djamal Warsito - Siri Abdullah yakni Siti Asiyah, Nur Susilowati, Muchsonah, Sri Lestari, Ridwan Mahmudi, Uswatun Hasanah, bahkan juga mampu melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Informasi yang diperoleh Solopos.com, Siti Asiyah yang pensiunan guru SMK dulu lulusan S1 Didaktika Kurikulum FKIP UNS melanjutkan S2 MPd di Univet Bantara. Kemudian Nur Susilowati lulus prodi D3 Bahasa Inggris UNS, melanjutkan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UT Surakarta lalu S2 Bahasa Inggris UNS kini bekerja sebagai pengajar di SMAN I Widodaren, Ngawi.

Sedangkan Muchsonah yang berkarier sebagai Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) merupakan lulusan D3 Pendidikan Bahasa Inggris UNS, melanjutkan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UNS, Masters of Education in Applied Linguistics University of Western Australia (UWA) serta Phd Candidate di University of Aberdeen (UoA) Scotland , the United Kingdom.

Kemudian Sri Lestari, pemerhati pendidikan, adalah lulusan S1 Bahasa dan Sastra Indonesia UNS, S2 Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Indraprasta.

Selanjutnya, Ridwan Mahmudi yang kini aktif sebagai konsultan bisnis dan manajemen adalah lulusan S1 Administrasi Negara FISIP UNS, S2 Magister Manajemen STIE Kusumanegara Jakarta, dan melanjutkan S3 Doktoral Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta.

Kemudian Uswatun Hasanah lulusan S1 FKIP UNS jurusan Bahasa Indonesia, S2 Pascasarjana UNS Jur. Pendidikan Bahasa Indonesia, dan S3 Pascasarjana UNS Pendidikan Bahasa Indonesia kini menjadi Kepala SMAN I Purwantoro Wonogiri.

Mengutamakan Pendidikan

Saat dihubungi Solopos.com, Selasa (9/3/2021), salah seorang dari enam bersaudara itu, Ridwan Mahmudi, mengatakan kedua orang tuanya sangat visioner akan pendidikan.

"Kami sebenarnya 11 bersaudara, tapi dua meninggal waktu masih kecil tinggal sembilan bersaudara. Tiga kakak tertua kami tak sempat dikuliahkan karena keadaan. Tapi enam berikutnya semua bisa kuliah di UNS," jelasnya melalui sambungan telepon.

Ridwan menjelaskan almarhum sang ayah hanya lulus SMP yang dulu bekerja sebagai pekerja Puskesmas di Sragen dan pensiun dengan golongan 2C. Sedangkan ibunya lulusan sekolah rakyat (SR) yang jadi ibu rumah tangga. Namun keduanya sangat mengutamakan pendidikan untuk anak-anak mereka.

Menurut Ridwan, kedua orang tuanya menyampaikan warisan terbaik yang akan mereka berikan adalah pendidikan.

"Silakan sekolah yang tinggi, kami upayakan biayanya," jelas Ridwan menirukan ucapan ayah dan ibunya.

"Kami bersaudara dimotivasi menghargai pengetahuan dan siap laku prihatin berjuang dalam menempuh pendidikan. Bapak ibu mendaraskan doa anak anaknya bisa sekolah setinggi langit, mendorong semua anaknya kuliah di UNS dengan pertimbangan sederhana," tambahnya.

Pertimbangan itu, kata dia, selain karena jarak dekat, biaya hidup murah, dan kualitas kampus negeri. Ridwan menceritakan sang ayah yang nyambi bertani kecil-kecilan masih sempat menyaksikan tiga anak lulus kuliah hingga wisuda. Namun kemudian ayahnya meninggal pada 1992.

"Setelah bapak meninggal, ibu mengelola uang pensiun yang tidak seberapa, waktu itu Rp120.000 per bulan untuk hidup dan membiayai kuliah tiga anak. Yaitu saya, kakak saya, dan adik saya. Ibu prihatin, kami prihatin. Kami kuliah sambil bekerja," urai Ridwan.

Membayar Indekos

Ridwan mengisahkan di awal-awal kuliah sebelum nyambi kerja, dirinya mendapat jatah Rp45.000 per bulan dari sang ibu. Uang itu digunakan untuk membayar indekos di kawasan UNS Solo Rp17.000/bulan.

"Sisa Rp28.000 ibu bilang cukup ra cukup piye caramu. Kemudian setelah nyambi bekerja, saya hanya mengambil jatah belasan ribu rupiah saja," jelasnya.

Dia menuturkan sang ibu yang kini masih sehat di usia 84 tahun telah 10 kali menghadiri wisuda anak-anaknya di UNS yang berlokasi di Kentingan Solo.

"Ibu bagi kami layaknya Profesor abadi di UNS, sebab dari rahim beliau, 6 anaknya kuliah S1 di UNS, 2 orang lanjut S2 di UNS, 1 orang S3 di UNS. Seingat saya, total beliau sudah menghadiri 10 kali wisuda di UNS. Ternyata UNS adalah 'jodoh' dari doa orang tua kami," ungkap dia.

sumber : solopos.com/artikel asli

Iklan Bawah Artikel