Jika Bangun Tidur Kesiangan, Bagaimana Hukum Shalat Subuh? Ini Penjelasan Ustadz Abdul Somad

 

Mediadakwah.online - (Serambinews.com) - Baru terbangun dari tidur kesiangan, kemudian langsung bergegas menunaikan ibadah shalat subuh. Mungkin hal itu dialami oleh hampir banyak orang, dengan berbagai alasan dan kondisi dibaliknya. Namun pertanyaannnya adalah, masihkah waktunya melaksanakan shalat Subuh?

Simak dalam penjelasan dari dai kondang Ustadz Abdul Somad atau akrab disapa UAS berikut.

Di antara lima waktu shalat fardhu, Subuh merupakan ibadah yang paling sulit untuk dikerjakan.

Pasalnya, waktu shalat ini terletak mulai dari terbitnya fajar shadiq hingga sebelum matahari terbit (syuruq), menurut para ulama sebagaimana dikutip dari tribunmanado.co.id.

Di manapun wilayahnya, waktu pengerjaan shalat Subuh pada hakikatnya tetap sama.

Pada waktu ini, kondisi langit masih terlihat gelap.

Tak sedikit orang yang sering terlena dalam tidurnya karena menganggap waktu Subuh masih panjang.

Namun ada pula yang kesiangan karena terlalu lelap tidur setelah aktivitas yang cukup melelahkan seharian penuh.

Oleh karena itu, tak jarang ada yang bangun dan baru melaksanakan shalat Subuh.

Lalu, apakah mengerjakan shalat Subuh kesiangan, masih masuk dalam waktunya ?

Berikut ini adalah penjelasan dari Ustad Abdul Somad, yang dikutip dalam sebuah video unggahan kanal youtube TAMAN SURGA.NET, berjudul HUKUM SHOLAT SUBUH KESIANGAN - Ustadz. Abdul Somad. Lc., MA.

Cara Mengetahui Batas Waktu Shalat Subuh

Penjelasan UAS mengenai batas waktu shalat subuh dalam video HUKUM SHOLAT SUBUH KESIANGAN - Ustadz. Abdul Somad. Lc., MA, diunggah oleh kanal YouTube TAMAN SURGA.NET dimulai pada menit ke-6.35.

Menurut penjelasan UAS, diketahui bahwa batas waktu shalat Subuh dapat ditentukan berdasarkan waktu syuruq, yaitu waktu terbitnya matahari.

Sementara untuk mengetahui waktu syuruq, bisa dihitung berdasarkan waktu magrib di masing-masing daerah.

“Cara mudah untuk isyraq, tengok magribnya. Jam berapa magribnya, begitu juga isyraq,” ujar UAS.

Lebih lanjut, UAS menerangkan bagaimana cara mengukur waktu syuruq atau melaksanakan shalat isyraq.

Yaitu dengan mengurangi 15 menit dari waktu magrib di masing-masing daerah.

Sebagai gambarannya, UAS memberikan contoh dengan mengambil waktu magrib di Kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau dengan waktu seperti saat video tersebut diambil.

Ketika itu, waktu magrib di Kota Tanjung Pinang jatuh pada pukul 06.04 WIB.

Pukul 06.04 WIB setelah dikurangi 15 menit, ialah pukul 5.50 WIB.

Dengan demikia, waktu syuruq atau terbitnya matahari di Kota Tanjung Pinang pada saat itu jatuh pada pukul 5.50 WIB.

Jadi, di waktu dan jam inilah (5.50 WIB), subuh di Kota Tanjung Pinang ketika itu sudah habis.

“Jadi kalau begitu, syuruq matahari terbit di tanjung pinang, jam 5.50,”

“Cara mudah untuk isyraq tengok magribnya, jam berapa magribnya, begitu juga isyraq. Kalau magribnya jam 6.04 maka boleh salat sunah isyraq jam enam subuh lewat lima. Lima belas menit sebelum itu subuh sudah habis,” tegas UAS kembali.

Sesuai dengan waktu seperti yang diterangkan dalam video tersebut, jika seseorang terbangun pada pukul 5.30 WIB, UAS menganjurkan untuk tidak langsung mengerjakan shalat shubuh.

Tetapi disarankan untuk mengerjakan shalat sunnah qabliyah terlebih dahulu, baru dilanjutkan dengan shalat subuh setelah iqamah.

Ini dikarenakan masih ada waktu selama 20 menit sebelum masuknya waktu syuruq.

Sementara untuk pengerjaan shalat sunnah isyraq, disebutkan UAS baru bisa dikerjakan 15 menit setelah waktu syuruq.

Sebagai contoh di Kota Tanjung Pinang dalam waktu seperti gambaran di atas, maka pengerjaan shalat isyraq dikerjakan pada pukul 06.05 WIB.

“Boleh shalat isyraq itu, 15 menit setelah syuruq. Syuruq matahari terbit. Jadi kalau begitu, syuruq matahari terbit di tanjung pinang, jam 5.50. Tambah 15 menit baru boleh shalat isyraq jam 6.05,” tutup UAS.

sumber : artikel asli

 

 

Iklan Bawah Artikel