Dahsyatnya Peristiwa Isra Mikraj, Membuat Kaum Quraisy Tak Bisa Membantah

 

Mediadakwah.online - Melansir muslim.okezone.com - Isra Mikraj 27 Rajab 1442 Hijriyah atau 11 Maret 2021. Isra Mikraj menjadi momen penting turunnya perintah sholat wajib 5 waktu bagi umat Islam.

Ketika itu, Nabi Muhammad SAW naik ke langit tertinggi untuk bertemu Allah SWT. Sementara itu, kaum kafir Quraisy tidak dapat mempercayai peristiwa tersebut, namun juga tidak memiliki alasan untuk membantahnya.

Dilansir dari video milik akun YouTube Kisah Islami, Selasa (9/3/2021), Rasulullah berbicara di tengah kaum kafir Quraisy perihal kejadian Isra Mikraj yang dialaminya secara jelas dan detail.

Beliau menceritakan pengalaman pergi dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di Palestina, lalu naik ke atas langit tertinggi.

Namun, kaum kafir Quraish tidak mempercayai perkataan tersebut. Rasulullah lantas menceritakan secara detail terkait gambaran Baitul Maqdis, seolah-olah penduduk Mekkah sedang berada di sana.

Kira-kira sebelum matahari tepat berada di atas kepala, Nabi Muhammad SAW pergi ke sebuah gunung di Makkah dan bertemu Malaikat Jibril. Rasulullah diberi isyarat untuk melihat ke arah lembah, yang kemudian dari situ memancarkan mata air.

Lantas Malaikat Jibril mengajarkan Rasulullah berwudhu dan sholat. Pada hari pertama, waktu sholat dzuhur adalah posisi matahari tergelincir ke arah barat. Malaikat Jibril mengajarkan tentang bacaan sholat, jumlah rakaat, gerakan sholat, dan apa saja sholat yang wajib dilakukan sehari semalam.

Tiba waktu Asar, Malaikat Jibril datang lagi dan memberitahukan kepada Nabi Muhammad SAW bahwa waktu Sholat Ashar ketika bayangan suatu benda sama persis dengan panjang benda tersebut. Kemudian tibalah waktu magrib, Malaikat Jibril mengatakan waktu sholat magrib ketika matahari telah tenggelam.

Begitupun pada waktu Isya, Malaikat Jibril mengatakan waktu sholat isya ketika warna merah di langit telah hilang. Keesokan harinya mendatangi Rasulullah di waktu sholat subuh. Waktu sholat subuh dilakukan ketika fajar baru terbit.

Malaikat Jibril kembali datang di hari kedua pada waktu sholat dzuhur. Saat itu, Malaikat Jibril bersama Rasulullah sholat diakhir waktu, ketika panjang bayangan benda sama dengan panjang benda itu sendiri.

Pada hari kedua, waktu asar adalah ketika panjang bayangan dua kali lipat lebih panjang dari benda itu. Waktu sholat magrib sama dengan hari sebelumnya. Kemudian pada waktu isya, mereka sholat isya lewat tengah malam. Pada hari ketiga Malaikat Jibril dan Rasulullah shalat subuh ketika matahari akan terbit.

Setelah melakukan sholat wajib selama dua hari berturut-turut, tiba saatnya Malaikat Jibril memberitahu batasan waktu sholat kepada Rasulullah. Sebagaimana telah disebutkan dalam hadis Riwayat Muslim nomer 612 dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma.

“Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamberkata, “Waktu shalat Zhuhur jika matahari sudah tergelincir ke barat ketika itu panjang bayangan sama dengan tinggi seseorang, selama belum masuk shalat ‘Ashar. Waktu shalat ‘Ashar adalah selama matahari belum menguning. Waktu shalat Maghrib adalah selama belum hilang cahaya merah pada ufuk barat. Waktu shalat Isya adalah sampai pertengahan malam. Waktu shalat Shubuh adalah dari terbit fajar selama belum terbit matahari.” (H.R. Muslim : 612).

baca artikel aslinya

 

Iklan Bawah Artikel