Bernadette Irene: Dahulu Skeptis, Kini Cinta Islam

 


Mediadakwah.online - (Republika.id) - Belasan tahun sudah berlalu sejak Tragedi Mei 1998 terjadi di Jakarta. Salah satu peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia itu menyisakan luka, duka, dan trauma bagi banyak orang.

Salah satunya adalah Bernadette Irene. Sebagai warga keturunan Tionghoa, keluarganya kala itu tak luput dari perasaan takut. Ketika kerusuhan terjadi, sekelompok orang menghancurkan pelbagai bangunan milik para pengusaha beretnis Tionghoa. Perbuatan anarkistis terjadi di jalan-jalan.

Waktu itu, Irene masih gadis berusia belasan tahun. Rumahnya berlokasi di sebuah kompleks permukiman di Tanjung Duren, Jakarta, yang dihuni mayoritas keturunan Cina.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana sekelompok orang hilang kendali. Situasi kian mencekam. Masih terekam dalam ingatannya, beberapa orang berusaha menandakan properti miliknya agar tidak dijarah gerombolan tak bertanggung jawab.

“Bahkan beberapa pengusaha Tionghoa Muslim harus memasang papan nama atau spanduk yang bertuliskan ‘Kami Cina Muslim'. Itu agar terhindar dari perusakan,” ujar perempuan berusia 39 tahun itu kepada Republika beberapa waktu lalu.

Inilah awal mulanya bersikap antipati terhadap Islam. Irene menuturkan, saat itu dirinya mendengar suara bergema dari arah masjid dekat kompleks perumahannya. Beberapa orang terdengar menyuarakan orasi yang menjurus provokasi kebencian terhadap warga keturunan Tionghoa yang non-Muslim.

Sebagai pemeluk agama non-Islam, keluarganya saat itu pantaslah cemas. Irene pun merasa takut. Sesekali, ia mengintip dari jendela rumahnya. Perasaan khawatir lambat laun menjadi ketidaksukaan terhadap umat Islam. Sebab, para perusuh itu saat bergerombol di jalan-jalan kerap menyuarakan takbir—bacaan yang sering ia dengar dari pengeras suara masjid tiap hari.

Ia mengaku bersyukur karena diri dan keluarganya dapat melewati kejadian Mei 1998 dengan selamat. Bagaimanapun, antipatinya terhadap Islam tidak juga hilang.

Apalagi, memasuki tahun 2001 dunia dikejutkan oleh serangan 9/11 yang melanda Amerika Serikat. Sejak itu, pelbagai pemberitaan marak menyudutkan Islam. Istilah-istilah ekstremisme dan terorisme kerap dilekatkan dengan agama ini.

Setelah lulus dari kampusnya, Irene mendapatkan pekerjaan. Pihak perusahaan menempatkannya di kantor cabang Bali. Tak pernah disangkanya, pada 2002 peristiwa Bom Bali terjadi. Kejadian yang menewaskan lebih dari 200 jiwa itu kian membuatnya trauma walaupun tidak terkena luka fisik.

Setelah dua tahun bekerja di Bali, ia pun memutuskan untuk pindah ke Solo, Jawa Tengah. Keputusan itu diambil bukan hanya untuk menjauh dari memori Bom Bali, tetapi juga kepentingan keluarga. Ayahnya waktu itu sedang sakit keras dan menjalani perawatan di Kota Batik itu. Ia ingin menetap di sana sekaligus untuk mendampingi kedua orang tuanya.

Titik balik

Setelah beberapa lama, akhirnya Irene mendapatkan pekerjaan baru di Solo. Ternyata, tempat kerjanya itu menjadi titik balik baginya. Sebab, sejak saat itulah perspektifnya mengenai Islam berubah drastis.

Sebelumnya, pandangannya tentang Islam kerap diwarnai macam-macam stigma. Selama di Bali pun dirinya lebih banyak memiliki kawan yang kurang begitu religius. Keadaannya berbeda dengan kantor tempatnya kini di Solo.

Mayoritas teman kantornya adalah Muslim. Rata-rata mereka menunjukkan akhlak yang santun. Malahan, atasannya pun cenderung religius. Sebagai contoh, tutur Irene, saat azan berkumandang, seluruh pekerjaan dihentikan. Orang-orang beralih ke mushala setempat untuk melaksanakan shalat berjamaah.

Saat itu, Irene juga mulai mengubah kesannya terhadap Muslimah yang berhijab. Dahulu, diam-diam ia memandang curiga perempuan yang berkerudung, apalagi bercadar. Sejak bekerja di Solo, ia justru memiliki banyak kawan Muslimah. Cara berpakaian mereka seluruhnya menutup aurat. Dan, semuanya bersahabat baik dengannya.

Karena faktor lingkungan itu, dirinya pun mulai tertarik mempelajari Islam. Awalnya, iseng-iseng Irene menonton beberapa video dakwah di media sosial, termasuk rekaman ceramah Ustaz Dr Zakir Naik. Perempuan berdarah Tionghoa ini juga membaca beberapa buku tentang sejarah Islam. Buku biografi Nabi Muhammad SAW juga dilahapnya.

“Saya juga membaca buku tetralogi kisah Rasulullah SAW karya Tasaro GK. Membacanya mengalirkan sensasi luar biasa yang menggetarkan saya, dari ujung kepala hingga kaki,” kenangnya.

Dia begitu takjub dengan kisah para sahabat Nabi SAW, seperti para khulafaur rasyidin. Sebut saja, Umar bin Khattab yang dikenal dengan sikapnya yang keras dan tegas. Namun, begitu dihadapkan dengan bacaan ayat-ayat suci Alquran, hatinya luruh. Air mata haru meleleh membasahi pipinya.

Sejak kecil, Irene sudah terbiasa dalam suasana religius agamanya—sebelum Islam. Ketika datang perasaan gundah, ia gemar menyendiri sambil memeluk kitab suci di kamarnya. Sambil hatinya terpaut pada Tuhan, ia akan membuka acak kitab tersebut. Memohon diberi petunjuk dan pencerahan terkait masalah yang sedang melanda hidupnya.

Kini, ada sedikit perbedaan. Tangannya membawa mushaf Alquran walaupun saat itu dirinya sama sekali buta bahasa Arab. Irene hanya mengandalkan teks terjemahan dalam kitab tersebut. Sambil memejamkan mata, ia memohon dalam hati kepada Tuhan agar ditunjukkan kebenaran, agama yang diterima di sisi-Nya.

Sesudah berdoa, dalam kesendirian itu ia membuka-buka acak mushaf Alquran yang dipegangnya. Ada tiga surah yang dilihatnya: surah al-Maidah ayat 110, surah Ali Imran ayat 3, dan surah al-Ikhlash. Isi surah al-Maidah ayat 110 itu mengabarkan firman Allah SWT kepada Nabi Isa. Irene membaca terjemahan ayat tersebut, yakni tentang “Rohulkudus”. Ini membuatnya tercengang.

Dalam kepercayaan lamanya, Roh Kudus adalah salah satu dari konsep tritunggal. Di belakang hari, Irene dengan tekun mempelajari makna Rohulkudus dalam Islam.

Akhirnya, ia mendapatkan pemahaman bahwa menurut Islam, Nabi Isa adalah utusan-Nya dan tidak mati dalam keadaan disalib. Salah besar menganggap beliau “anak Tuhan”. Sebab, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Surah al-Ikhlash menegaskan hal itu.

Masuk Islam

Memasuki tahun 2013, Irene mulai nyaman mempelajari Islam. Bulan suci Ramadhan pun tiba. Ia menyaksikan bagaimana rekan-rekan kerjanya yang Muslim dengan taat menjalani puasa. Walaupun belum mengucapkan dua kalimat syahadat, perempuan ini mulai melatih diri dengan puasa. Bahkan, gerakan-gerakan shalat pun dihafalkannya.

Memang, sempat tebersit dalam hatinya untuk resmi memeluk Islam saat Ramadhan. Namun, niat tersebut urung dilaksanakannya. Sebab, ia khawatir bahwa apa yang akan dilakukan hanya lantaran terbawa suasana.

Usai Ramadhan, ternyata keinginannya untuk memeluk Islam kian kuat. Akhirnya, pada Agustus 2013, Irene memutuskan untuk bersyahadat. Prosesi itu dilakukannya di Masjid Agung Solo dengan bimbingan seorang ustaz serta disaksikan sejumlah jamaah.

Karena sudah lama mempelajari Islam, Irene bersyukur ketika menjalani shalat setelah menjadi Muslim diberikan kemudahan. Dia pun cukup lancar melafalkan bacaan-bacaan shalat. Gerakannya pun tidak begitu kaku dilakukannya.

Keputusannya menjadi seorang Muslimah sempat disambut penolakan dari pihak keluarga. Demi menghindari konflik berkepanjangan, Irene berhijrah ke luar Solo. Kota Bandung, Jawa Barat, menjadi pilihannya sebagai tempat bekerja.

Waktu itu, ia sudah menikah. Anak pertamanya pun lahir di Kota Kembang. Tahun-tahun terus berlalu, ujian menerpa hidupnya. Bahtera rumah tangga yang dibinanya mengalami keretakan. Bahkan, dirinya terpaksa bercerai.

Atas kehendak Allah, Irene dipertemukan dengan seorang pemilik toko tato di Bandung. Sebelum memeluk Islam, dirinya gemar menato tangannya. Itu dilakukan sebagai pelampiasan gejolak jiwanya. Karena itu, ia akrab dengan dunia seni rajah tubuh.

Irene kemudian menikah dengan lelaki owner toko tato tersebut. Keduanya pun bekerja di bisnis ini setelah menikah. Karena pekerjaannya, saat itu keluarga kecil ini kian dekat dengan dunia malam dan bahkan kehidupan bebas. Akhirnya, timbul keinginan dari mereka untuk keluar sama sekali dari profesi tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Irene mendapat kabar duka, ayahnya wafat. Sebagai anak tunggal, dia mendapatkan harta warisan. Dari dana yang ada, dia pun memutuskan untuk membuka kafe di bilangan Cimahi, Jawa Barat.

Irene dan suaminya mulai berkecimpung dalam dunia wirausaha. Sekitar lima tahun lalu, ia sukses mendirikan kafe baru di Balikpapan, Kalimantan Timur. Pandemi Covid-19 sempat membuat usahanya terpukul. Keduanya pun terus berdoa dan berikhtiar agar dapat melalui cobaan ini dengan baik dan penuh ketakwaan.

sumber artikel : republika.id

 

 

Iklan Bawah Artikel